Dia melangkah lelah di tepi langit
Menenteng sebakul lara
Selalu pasrah dengan rencana yang dirakit
Dengan asa tak nyerah namun pasrah
Berharap Sang Khalik punya bidik
Untuk melempar anak panah inginnya
Meluncur tegap seperti ia mau
Segala mau selalu begitu hingga terjadi
Mimpi lama yang dipaku di atas sajak ilusi
Terlilit utang budi tentang teh sepi
Yang tak berasa sampai lidah merana
Dia pernah menggengam boneka
Boneka titipan-Nya
Titipan Mahakuasa
Tuk dijaga
Hingga akhirnya . . .
Jiwa lemah kembali
Ke pangkuan-Nya
Selamanya
Blog ini merupakan wadah para penikmat kata. Para penikmat kata dapat menikmat beberapa kumpulan puisi, kumpulan cerita pendek, dan film pendek.
Sabtu, 12 Maret 2016
Jumat, 11 Maret 2016
Oh Malang
Terdengar ceritamu dari temanmu
Tapi sayang asmara bukan maumu
Semakin kudengar semakin kumemar
Bahwa jiwa kokoh telah nanar
Tapi sayang asmara bukan maumu
Semakin kudengar semakin kumemar
Bahwa jiwa kokoh telah nanar
Mendekatlah
Perlahan mawar ini layu di sini
Karena telah kau ambil mekarnya
Harumnya tak lagi semerbak
Karena telah kau ambil mekarnya
Harumnya tak lagi semerbak
Lama tak berjumpa jiwa merdeka
Melahap dunia tak berwarna
Sebab mata tak mampu meraba
Melawan syair sang pujangga cinta
Sebab mata tak mampu meraba
Melawan syair sang pujangga cinta
Mecintaimu bagai air laut
Pasang surut pasti selalu ada
Namun air laut
Memiliki rasa yang sama
Pasang surut pasti selalu ada
Namun air laut
Memiliki rasa yang sama
Rabu, 09 Maret 2016
AN AN AN
Perlahan kawan membinatangkan aturan
Mendudukkan pendirian awan
Mengumpulkan kesenangan kesendirian
Menawan . . .
Teman mempertahankan keadilan
Berantakan . . .
Tawaran keabadian melawan Tuhan
Keperluan setan aman
Jangan lepaskan kepercayaan
Matikan segrombolan keanehan
Dengan membentangkan kekonyolan
Akan taman kejadian relevan
Perawan rupawan membisikkan
Kesengsaraan homo dan lesbian
Mengkhayalkan perbuatan nan kelewatan
Korban termakan zaman
Mendudukkan pendirian awan
Mengumpulkan kesenangan kesendirian
Menawan . . .
Teman mempertahankan keadilan
Berantakan . . .
Tawaran keabadian melawan Tuhan
Keperluan setan aman
Jangan lepaskan kepercayaan
Matikan segrombolan keanehan
Dengan membentangkan kekonyolan
Akan taman kejadian relevan
Perawan rupawan membisikkan
Kesengsaraan homo dan lesbian
Mengkhayalkan perbuatan nan kelewatan
Korban termakan zaman
Antologi Malam
Di ujung malam landai sayap tertegun
Membasahi baju rembulan yang anggun
Angin malam berenang menuju perut bumi
Mengukur dalamnya rahim yang sejengkal
Akal tak pernah tertawa terpingkal-pingkal
Melihat mata terbelalak menerawang awang
Agar senja tetap terjaga di ujung pagi
Pagi suci mengayomi jiwa berhati sunyi
Kesenjangan tak pernah merasa mempunyai jarak
Ketidakselarasan tak pernah merasa sejalan
Sebab malam tak pernah melupakan gelap
Terlebih gelapnya baju sang bulan
Lalala
Aduhai ini malam terbuka lebar
Menunggu pasangan menari
Lalala
Lihat malam tak pernah jenuh
Menjahit koyakan semesta yang acuh
Lalala
Lala
La
Aku rindu antologi malam
Membasahi baju rembulan yang anggun
Angin malam berenang menuju perut bumi
Mengukur dalamnya rahim yang sejengkal
Akal tak pernah tertawa terpingkal-pingkal
Melihat mata terbelalak menerawang awang
Agar senja tetap terjaga di ujung pagi
Pagi suci mengayomi jiwa berhati sunyi
Kesenjangan tak pernah merasa mempunyai jarak
Ketidakselarasan tak pernah merasa sejalan
Sebab malam tak pernah melupakan gelap
Terlebih gelapnya baju sang bulan
Lalala
Aduhai ini malam terbuka lebar
Menunggu pasangan menari
Lalala
Lihat malam tak pernah jenuh
Menjahit koyakan semesta yang acuh
Lalala
Lala
La
Aku rindu antologi malam
Senin, 07 Maret 2016
Cermin Abadi
Engkau menunggang bulan di malam hari
Menuju pulang ke padang bintang
Tak pernah terlambat tuk berbaring rapi
Menembus dunia mimpi di atas api
Kau adalah lembaran pagi
Memilin embun berbaju mentari
Tak lagi aku mencari permaisuri
Di tepi pantai berdiri memiliki hati suci
Aku sedari ingin
Selalu abadi
Abadi menjadi cermin
yang kelak kau tatap
Sembari kau memantas dan mematut diri
Memuka diri
Tepat di hari
Hari halal yang kekal
Menuju pulang ke padang bintang
Tak pernah terlambat tuk berbaring rapi
Menembus dunia mimpi di atas api
Kau adalah lembaran pagi
Memilin embun berbaju mentari
Tak lagi aku mencari permaisuri
Di tepi pantai berdiri memiliki hati suci
Aku sedari ingin
Selalu abadi
Abadi menjadi cermin
yang kelak kau tatap
Sembari kau memantas dan mematut diri
Memuka diri
Tepat di hari
Hari halal yang kekal
Kamis, 03 Maret 2016
AKU KAU
Dia
tidak berubah atau ketetapan melekat erat padanya. Lelaki itu sedang duduk menunggu. Tepatnya menunggu kedatanganku. Namanya Aldo. Dia tidak
bergerak dari tempat duduknya. Kaos hitam yang kusut yang membalut tubuhnya menemani sepinya.
Rambutnya panjang seperti gitaris ternama dunia, Slash sang gitaris Gun n Roses, menjadi ciri khasnya. Tidak berubah. Esensinya sebagai dua sosok yang berubah ternyata tidak menyisakan ruang. Bagian lengan hingga ujungnya telanjang merupakan kebiasaan. Kebiasaan memamerkan lukisan indah di tubuhnya.
Rambutnya panjang seperti gitaris ternama dunia, Slash sang gitaris Gun n Roses, menjadi ciri khasnya. Tidak berubah. Esensinya sebagai dua sosok yang berubah ternyata tidak menyisakan ruang. Bagian lengan hingga ujungnya telanjang merupakan kebiasaan. Kebiasaan memamerkan lukisan indah di tubuhnya.
Gurita
yang mengeluarkan tinta di dadanya sebagai pusat utama di lukisan tubuh.
Sehingga mengalir salib-salib yang menggantung terlukis di punggungnya.
Lukisannya tidak indah tanpa guratan nama ibu yang melahirkannya ke dunia ini.
Urat-urat yang timbul juga tersirat menjadi lukisan alami sehingga sekujur tubuh menjadi kanvas bagi pencinta lukisan di tubuh manusia. Apakah ibunya tidak melarang? Ibunya pernah melarang, tetapi ketika mengetahui terlukis guratan nama ibunya, ibunya hanya bisa tersenyum dan menyelipkan sepucuk doa.
Urat-urat yang timbul juga tersirat menjadi lukisan alami sehingga sekujur tubuh menjadi kanvas bagi pencinta lukisan di tubuh manusia. Apakah ibunya tidak melarang? Ibunya pernah melarang, tetapi ketika mengetahui terlukis guratan nama ibunya, ibunya hanya bisa tersenyum dan menyelipkan sepucuk doa.
Aldo elwdyan. Nama tersebut
pemberi kakeknya. Kakeknya seorang musisi terkenal pada masanya. Buah tidak
jauh jatuh dari batangnya. Wajar saja darah Aldo mengalir darah musisi. Setiap
detik merupakan sepenggal tangga tempat ia duduk. Setiap jam merupakan sepotong
waktu untuk memetik. Setiap hari merupakan pintalan senar yang berbunyi. Setiap
saat bisa jadi tempatnya berhubungan intim dengan gitar kesayangannya.
Aku adalah kekasihnya yang nomor dua, karena kekasihnya yang pertama yakni gitar kesayangannya. Malam ini aku ingin bertemu dengannya. Rindu? Bukan. Hanya ingin melihatnya saja.
Aku adalah kekasihnya yang nomor dua, karena kekasihnya yang pertama yakni gitar kesayangannya. Malam ini aku ingin bertemu dengannya. Rindu? Bukan. Hanya ingin melihatnya saja.
Dia mulai menyadari bahwa aku
menyadari kehadirannya dan dia juga tersadar ketika aku tersadar melihat
kesadarannya. Dia menyiratkan secarik senyum di wajahnya yang kusut dan aku
melambaikan tanganku dan menuju ke arahnya.
*****
Ternyata dia tidak sadar bahwa
aku melihat sosoknya di sela-sela aku menikmati dinginnya malam ini. Tidak ada
yang berubah padanya. Masih saja seperti dulu. Rambut nya yang tergurai memeluk
bahunya. Celana sobek yang kerapkali membalut separuh tubuhnya. Terlebih kaos
yang selalu ditemani jaket panjangnya.Namun dia adalah perempuan yang aku cinta.
Terkadang aku merasa aneh melihat
mahluk satu ini. Si kutuk buku. Tetapi aneh, kutu yang satu ini tidak terserang
cacat pada matanya akibat baca dan baca. Mungkin buku yang ia baca bisa menjadi
perpusatakaan keliling di kampung. Wanita yang tak pernah memperhatikan
penampilan itu tetap saja tidak menyadari kesadaranku yang sedang menyelidik
ketidaksadarannya.
Namanya Sonia. Di garis keturunannya tidak ada yang berbau seni dan sastra. Namun, garis ilmiah dan sains lah yang ada. Namanya saja perempuan aneh. Lari dari jalurnya.
Namanya Sonia. Di garis keturunannya tidak ada yang berbau seni dan sastra. Namun, garis ilmiah dan sains lah yang ada. Namanya saja perempuan aneh. Lari dari jalurnya.
Mungkin akibat teater yang ia
geluti membuat penampilan bukanlah suatu hal yang penting. Buku-buku yang ia
tulis juga kerap tidak menarik perhatiannya untuk mengubah penampilannya.
Namun, mungkin ini salah satu
pemikat yang memikatku senang bersamanya. Hubungan yang kami jalin pun kerap
berjalan dengan baik. Mungkin saja aku esensi keberuntungan memisahkan jarak
antara kami. Kegemarannku membawaku ke panggung impianku sehingga aku terpaksa
meninggalkannya sebab ia masih mengais sarjananya.
Sengaja aku memesannya agar
bertemu di titik ia sekarang berdiri memandang kosong depan tersebut. Agar aku
bisa mengagguminya sejenak dari kejauhan ini. Ah sudahlah. Sudah lumayan lama
tercipta ketidaksadaran di antara kami.
Aku mulai memandang dan mulai tersenyum
kepadanya mengisyaratkan agar dia mendekat. Lalu dia melambai pelan ke arahku
duduk. Dia mulai mengayunkan langkah hingga mendekat dan duduk tepat di
depanku. Lampion menjadi penerang tepat di atas kepala kami berdua.
*****
Sosok sudah tepat berada di
hadapanku. Rambutnya yang membuat tampak dia seram namun tidak bagiku.
Lukisan-lukisa di tangan-tangannya seakan-akan menari-nari dan melompat-lompat
menyambut kedatangannku. Aku melihat jari-jarinya yang agak kusut akibat
latihan mempersiapkan konser kemarin mungkin.
Akhirnya ia dapat berdiri tegak
di panggung impinya. Dan aku sepertinya mulai tidak mungkin lagi berada di
sampingnya. Karena ia sudah punya nama yang tidak seperti dulu. Dia mulai
memandang mataku yang keliling luas ruang menelidik tubuhnya. Aku mulai
terpaku. Aku harus mengutarakan ini.
Tapi mulai dari mana? Darimana
sehingga perjalanan ini bisa aku jalani lagi. Orang sudah berbusa-busa
memotivasiku agar berani mengutarakan ini. Apakah aku mengatakan bahwa aku
tidak ingin jauh-jauh darimu karena dia sudah menggenggam mimpinya? Atau apakah
aku harus mengatakan bahwa aku harus mundur sebab ketika dia mengenggam
mimpinya dia tidak bisa melirik aku sedikitpun setelah dia sudah jauh pergi
bersama mimpinya.
Aku harus katakan sesuatu. Aku
mulai mendongakkan daguku dan mulai menggetarkan bibirku agar lidah tidak kelu.
“Aku ingin katakan sesuatu,”
ternyata mulut kami serentak mengatakan hal yang sama. Lalu dia perlahan
memegang tanganku.
*****
Sosok sudah tepat berada di
hadapanku. Aku ingin memeluk dingin tubuhnya. Namun ada yang mengusik
pikirannya. Mungkin mengusik pikiranku juga. Tapi seharusnya aku merasa senang
sudah berada di dekatnya. Dia seakan ingin mengatakan kata meracik menjadi
sebuah kalimat.
Tetapi sebelum dia
mengutarakannya aku juga harus mendahuluinya dengan terpaksa. Melihat
kesibukanku belakngan ini aku sudah mengusi hatinya. Mungkin ini adalah pilihan
berat. Pilihan impian atau pilihan dia. Sepertinya aku harus menyuruh dia
berhenti sarjananya dan mengikuti aku kemanapun aku pergi atau haruskah aku
menghentikan mimpiku yang sudah lama aku idamkan?
Mungkin, hidup adalah pilihan.
Dan sekiranya bukan pilihan lah yang menentukan suatu hidup. Namun hiduplah
yang seharusnya menentukan suatu pilihan,bukan?
Sepertinya dia sudah mendongakkan
dagunya dan mulai menggetarkan bibirnya untuk bicaranya. Tidak. Aku juga ingin
mengatakan sebelum dia katakan sesuatu.
“Aku ingin katakan sesuatu,”
ternyata mulut kami serentak mengatakan hal yang sama. Lalu aku memegang
tangannya secara lembut.
“Katakanlah sesuatu,” ujarku
sambil membiarkan dia mengeluarkan sepatah kata.
*****
“Aku takut,” ucapku terdengar
berbisik.
“Aku takut kau tidak dapat lagi
menggemgam mimpimu berada di panggung yang telah lama kau mimpikan. Mungkin aku
sebuah penghalang. Tapi aku takut. Mungkin sekarang kita tidak berada di
pondasi yang sama. Tapi aku rela kau beralih ke pondasi yang sana.” Mulutku
bergetar mengatakan kalimat demi kalimat. Diiringi dengan aliran air mata yang
membasahi pipiku yang kusam. Tangannya mulai mengusap ujung rambutku. Tapi itu
membuatku semakin ingin menangis sekencang-kencangny.
*****
Dia
mulai mendongak dan menggetarkan mulutnya. Aku mendengar kata-kata bahwa ia
takut. Lalu kalimat selanjutnya menusuk sistem otak kiriku. Aku mulai terdiam.
Seluruh perederan darahku berhenti seketika. Sehingga jantungku mulai lupa cara
memompa darahku. Aku mulai mengusap ujung kepalanya dan mulai mendekat ke
sampingnya.
“Aku
lebih takut kehilanganmu. Sudahlah aku tak ingin kehilanganmu,” perlahan aku
sirapkan pelukan untuk meredam tangisnya yang semakin kencang.
GILANG (karya lawas)
Benturan angin malam merebak keheningan
yang menemani sang rembulan dan bintang-bintang yang menghiasi langit malam.
Cahaya bulan dan kemilau bintang-bintang merindangi isi muka bumi. Burung hantu
dan kelelawar malam mencari nafkah buat kebutuhan perutnya yang sudah tak
sabaran untuk diisi. Suara-suara yang mengerumuni udara di hamparan tengah
malam menemani sosokku yang rapuh sedang termenung memandang langit yang kelam.
Ada sesuatu yang mengganjal hatiku. Hati
ini selalu terusik oleh pengalaman yang sangat tak dapat masuk oleh akalku
membuat aku tidak bisa tidur semalaman. Aku duduk termangu memandang langit
yang kelam, serasa berada di hamparan padang langit yang menyelimuti hati yang
gersang.
Sebenarnya hatiku diganjal oleh suatu
masalah yang masih kabar burung. Kabar itu pun disampaikan lewat pesan singkat
teknologi ,SMS, dari Bintang, sahabat dekatku. Pesan singkat itu berisi Cinta,
cewek pendekatanku(pdkt), dating dengan anak baru yang mirip orang bule
itu. Inilah efek samping memiliki emosi yang berlebihan, terlalu mudah
tersinggung.
Aku tak bisa selalu begini dan tak akan
pernah bisa begini. Aku coba berdiri dari dudukan yang telah lama kududuki,
lalu meninggalkan kamar. Aku keluar rumah dan langsung menunggang sepeda
milikku menuju rumah Bintang. Semoga saja dia belum pergi ke alam mimpi.
Semakin lama laju sepeda tunggangku semakin cepat menembus angin.
Aku tiba di halaman yang masih alami
bertema go green, pohon-pohon dari kecil ke besar, bunga-bunga yang
ramai sampai satu-satu menghiasi halaman yang cukup luas ini. Lampu
remang-remang menghiasi halaman hijau dan sangat indah tentunya. Lampu
bercahaya dari dalam rumah, itu menandakan bahwa pemilik rumah belum pada pergi
ke alam mimpi.
Aku menekan bel beberapa kali. Sedetik
kemudian, di balik pintu, sudah berdiri sosok Bintang yang mukanya tampak mulai
mengantuk.
“Selamat malam Bro, ada gerangan tadi? Ayo
masuk dulu!” suaranya mengiringiku masuk ke dalam rumah.
“Belum tidur?” tanyaku singkat.
“Hahaha.. Aneh loe. Kan gue belum molor,
berarti belum lah.”
“Iyaiya. Ehm, begini Bro.”
“Apaan sih? Plinplan banget.”
“Emang betul loe gak salah liat, bahwa
Cinta, cewek yg gue incar, jalan sama si bule itu?”
“Iyalah, mana mungkin gue salah liat.”
“Pantas saja dia cuek dan mengancam aku
untuk putus samanya?”
“Mungkin juga karena bule itu.” Jawabnya
acuh.
“Apa gue harus ahli bermain gitar dan
nyanyi biar bisa bersaing dengan bule itu?”
“Gue kurang tau Bro, setau gue juga loe
harus jadi diri sendiri. Jangan jadi orang lain.”
“Loe tau kan gimana rasanya dan hancurnya
perasaan loe, saat loe sedang dekat-dekatnya sama cewek yang loe taksir, eh
tiba-tiba, sudah diambil orang?”
“Hahaha.. Loe terlalu melankonis kawan. Loe
terlalu kesinetronan. Bukan hanya dia cewek di dunia ini. Bukan hanya dia.”
“Tapi aku merasa nyaman setelah sekian lama
aku bisa melupakan Tika, mantan gue itu.”
“Buka mata loe, bukan hanya dia perempuan.”
Ucap bintang dengan nada naik.
“Seandainya loe tahu bagaiaman sekarang
hati gue yang sudah hancur berkeping-keping ini.”
“Loe terlalu banyak baca novel yang berbau
cinta. Jadi loe cinta mati ama si Cinta. Gila loe. Loe cowok tergila gue liat.”
“Terserah loe.” Ucapku sambil menghembuskan
nafas keputusasaan.
Kesunyian menyelimuti di antara mereka. Tak
ada satu pun yang mengeluarkan suara yang berlaras dengan dinginnya malam itu.
Hari semakin larut, udara dingin mulai menurunkan suhunya untuk menyambut pagi
yang cerah esok. Langit dan bumi seakan tak pernah berkompromi mengatur suhu
yang sangat dingin.
“Jadi, bagaimana keputusan loe?”
“Gue tetap ngejar cinta gue.”
“Gak salah tuh, seorang preman merengek
karena cinta saja. Makan tuh cinta.”
“Apa salahnya berusaha? Sebeku apapun hati
manusia, jika selalu disentuh dengan perasaan, pasti akan cari juga.”
“Tapi kapan Gilang? Kapan?”
“Gue gak tahu, mungkin Tuhan Cuma yang
tahu.”
“Hanya berdoa jalan terakhir Bro,” ucap
Bintang sambil memegang pundakku.
Aku hanya bisa menahan air mata ini untuk
tak menetes. Butuh perjuangan yang sangat berat dipikul untuk kembali bisa
mendapat keceriaan itu.
Cinta memang gila dan
bisa membuat kita lupa daratan
****
Di pepohonan yang masih rindang dengan
embun yang masih segar, terdengar kicauan burung yang sangat merdu. Jika
burungnya mengerti not-not dan nada-nada yang segala macam itu, pasti akan bisa
dibawa ke ajang festival tarik suara dan bisa menjadi lawan berat manusia yang
memiliki suara merdu. Tapi suara merdu burung itu tak semerdu suasana di
hatiku.
Meski di ufuk timur sudah terbit mentari
pagi yang menampakkan kilau cahayanya yang keemasan menembus jendela kamarku
yang sudah terlihat kusam dan semua itu tak lagi bisa kuhiraukan. Inikah
namanya penyakit cinta stadium akut. Apa yang harus kulakukan, apakah aku harus
melankonis mengakhiri sebuah hidup yang paling kelam ini sebelum ditinggal
namanya Cinta, sang pujaan hati.
Aku hanya termenung di bawah mentari pagi
yang masih berusaha payah terbit mengutarakan cahayanya yang tak akan pernah
habis jika tak diambil sang Empunya. Gemersik daun-daun berguguran dari
batangnya dan pucuk-pucuknya habis dimakan ulat green tea J. Dan hal
yang kulakukan untuk hari ini ialah mencoba tersenyum dengan doa yang
kupanjatkan.
****
Pertama aku harus bisa mengambil hati
Cinta. Aku harus bisa bermain gitar sambil bernyanyi seperti sering dilakukan
cowok bule itu kepada Cinta. Aku juga harus membeli sepeda motor yang terlihat
modis dan jantan untuk membawa Cinta kemana saja kami melabuhkan cinta yang
akan kami padu bersama. Dan sekarang aku harus menjual semua yang kupunya.
Aku memiliki sepeda yang masih dapat
dikatan baru untuk versi enam bulan yang lalu. Sepeda ini masih setengah tahun
menemaniku berjalan di jalan yang sangat jauh ditempuh memakan banyak peluh
keringat. Aku juga harus rela tak lagi menunggang sepeda kesayanganku ini, aku
harus berjalan bersama kakiku yang masih bisa dibilang kokoh dan tegar
menghadapi banyak cobaan. Dan aku yakin bisa.
Aku juga memiliki surat rumah untuk
menggadaikan rumahku satu-satunya di dunia yang fana ini. Soalnya harga sepeda
motor yang jantan itu sangat mahal. Aku harus menjual semua harta milikku,
kecuali yang menempel pada badanku, itupun hanya baju sepasang. Itu lah cinta,
cinta butuh pengorbanan. Semoga saja berhasil.
Aku juga punya ide untuk berjalan kaki
menyusuri perempatan jalan di tengah lampu lalu lintas untuk merenggut gitar
jalanan milik anak jalanan. Aku juga tidak bisa menahan nafsuku untuk
menguatkan bahwa cintaku pada Cinta sangatlah besar adanya. Aku sudah mempunya
ide yang bisa dibilang gila, karena aku seorang cowok yang gila.
Biasanya cowok gila sangat cocok dengan
cewek judes. Karena itu merupakan kombinasi antara plinplan dan melankonis yang
dipadu dalam bahasa alam untuk memudarkan apa artinya cinta sesungguhnya. Aku
tak mengerti apa bahasa yang keluar dari aura tubuhku dan aku tak pahan kenapa
aku bisa melakukan semua bahasa yang kugerakkan melalui jari jari kecilku ini.
Di sebuah toko
Aku tiba di sebuah emperen toko dengan
degupan jantung yang tak karuan. Aku langsung mengutarakan apa yang ada dalam
isi otakku.
“Cang aku mau menjual handphone.” Ucapku
lirih dengan nada memelas.
“Haiya, ho mau jual ya. Gue tawar enam
ratus rebu,” jawab ngkong cina pemilik toko itu.
“Tujuh ratuslah Cang, butuh banget duit
gue. Ini masih bagus dan terawat kok, meski udah second”
“Loe berani tawar, langsung angkat kaki.”
“Oke-oke deal cang,”
“Enam ratus rebu,” tanganku tak rela
menyodorkan handphone kesayanganku kepadanya.
“Terimakasih,”
Di kantor pegadaian
Dengan sengaja aku menjual terakhir
sepedaku, karena aku tak ingin berjalan lebih jauh menuju rumahku.
“Selamat siang Pak.” Sapaku dengan sangat
santun.
“Siang.” Jawab penajaga yang bertugas saat
itu dengan cuek amat.
“Saya mau meminjam uang 50 juta Pak.”
“Dengan jaminan?”
“Surat tanah Pak.” Sembari memberi surat
tanah yang dari tadi kugenggam.
“Hah. 50 juta ? dengan luas tanah 6x4
meter. Hanya bisa 20 juta.”
“Gak bisa tambah lagi Pak?”
“Sudah harga mati.”
“Baiklah Pak.”
Dengan uang dua puluh juta enam ratus ribu
aku melangkahkan kakiku menuju jalur selanjutnya. Ternyata sangat letih juga
berjalan seharian penuh tanpa istrahat. Dari bangun pagi hingga sekarang aku
belum mengisi sedikit pun perutku yang sejengkal ini. Padahal panas matahari
sudah sangat menyengat sehingga peluh keringatku bercucuran tak karuan. Aku
menghentikan perjalanan sejenak ke warung tegal untuk mengisi tenagaku.
Aku memarkirkan sepedaku di lapangan parkir
yang agak luas itu. Aku masuk ke dalam warung tersebut, dan sedikit udara adem
menjelajahi sekujur tubuhku dengan godaan sensasi dingin keringnya. Aku memesan
nasi campur dengan lauk tahu tempe dan telur goreng ceplok. Aku juga tidak lupa
memesan jus jeruk, supaya aku selalu mengingat momen dengan pujaan hatiku,
Cinta, mbak judes terkasihku.
Memang aku juga tak tahu aku kenapa begini.
Pantas saja aku disebut cowok gila. Biarin saja, gila-gila gini yang penting
ada usaha dan niat. Dimana ada niat dan usaha di situ terdapat jalan yang tak
akan pernah kita dapat. Tapi mungkin yang kulakukan ini tidak menghasilkan
apa-apa. Namanya juga sudah cinta, taik kambing rasanya coklat.
“Silahkan Bang.” Sauara kemayu dari seorang
pelayan mengacaukan pikiranku yang ngelantur.
“Terima kasih Mbak.” Jawabku dengan sigap.
Aku memerhatikan isi piring yang ada
dihadapanku. Perutku mulai berbunyi, sepertinya cacing-cacing di dalam tubuhku
sudah demo. Bukan demo untuk kenaikan BBM, tetapi kekurangan bahan bakar untuk
membakar semua yang ada dalam tubuhku ini.
Secara perlahan, butiran-butiran nasi yang
kian penuh, secara merambat berkurang akibat kerja sama antara mulut dan
perutku menguyah secara kompak. Aku meneguk beberapa tegukan air putih yang
membasahi kerongkonganku. Tapi, seperkiandetik kemudian, aku mendecak dan
terbatuk-batuk. Aku melihat suatu yang aneh pada layar televisi.
Aku melihat berita yang melontarkan bahwa
kijang merah dengan nomor polisi N1N4 telah mengalami kecelakaan yang sangat
tragis. Pengemudi seorang wanita yang masih muda mengalami luka parah dan
kritis. Aku segera berlari ke tempat kejadian itu, tanpa membayar yang telah
kupesan. Aku yakin itu adalah Cinta, dia kecelakaan, aku tak percaya.
Aku tiba di jalan raya dengan nafas
terengah-engah. Aku melihat sekujur tubuh Cinta penuh lara dan darah yang
sangat seram. Semua orang yang ada di sini tidak membantu, malah mengambil
kamera. Dasar manusia tak berprikeadilan. Aku benci dengan mereka yang
mempertontonkan nyawa manusia yang hampir melayang. Nyaris saja.
Aku menggendong tubuh Cinta ke taxi dengan
sigap untuk membawa sosok tubuh Cinta ke rumah sakit terdekat. Aku sangat
takut. Aku memegang tangannya yang sangat halus itu dan berdoa dalam hati
semoga ia selamat.
“Kenapa ini terjadi ya Tuhan?” keluhku
dalam batin.
Aku terus menggendong tubuh yang penuh luka
dan darah itu ke ruang IGD. Para suster dan dokter dengan cepat menangani yang
menimpa Cinta. Aku tidak diperbolehkan masuk ke dalam ruangan yang sangat putih
itu. Aku harus menunggu dengan sabar berjam-jam.
****
Sekian lama aku menunggu dengan harapan
yang setengah kosong. Aku mondar-mandir. Aku sudah gila. Aku lebih gila jika
aku kehilangan ia selamanya. Aku menunggu. Menunggu. Seandanginya aku bisa
menggantikan posisinya, dia pasti tak akan merasakan sepahit ini.
Pintu ruangan itu terbuka dengan secara
perlahan, seorang dokter dengan steteskop yang tergantung di lehernya dengan
sedikit wajah murung mendapatkan aku yang sedang menunggu tanpa pasti.
“Bagaimana Dok?” aku tak sabaran mendengar
bagaimana kabarnya.
“Apa kamu kerabat pasien?”
“Iya Dok, saya kerabatnya. Bagaimana Dok?”
“Nyawanya terselamatkan,”
“Syukur,” aku menghembuskan napas panjang
dan lega juga akhirnya.
“Tapi, dia buta selamanya,”
“Apa?”
“Iya, dia buta selamanya. Kedua matanya
tertusuk benda tajam dan menyebabkan aliran darah membuat kedua bola matanya
rusak total. Tapi dia bisa melihat, jika ada manusia yang berhati baik
mendonorkan kedua bola matanya sekaligus nyawanya juga.”
“Saya Dok, saya bisa, saya bisa Dok. Ayolah
Dok, jangan bingung, aku ingin dia selamat. Jangan hiraukan saya,”
“Apa kamu sudah memikirkannya
matang-matang?”
“Iya,” ucapku sedih.
“Jangan terlalu gegabah anak muda, hidupmu
masih panjang.”
“Tapi dia sangat berarti bagiku Dok.”
“Baiklah jika itu maumu, akan kuturuti.
Kalau boleh secepatnya, besok pagi bagaimana?”
“Saya siap Dok”
DEMI CINTA
**********
Sebelum melakukan operasi donor mata, aku
menyempatkan diri untuk berkunjung ke ruang inap Cinta. Aku memegang tangannya.
Aku jadi teringat, aku cowok yang pertama kali yang berani nyentuh tangannya.
Kan aku gilak, wajar saja. Aku mencoba memegang kepalanya yang dipenuhi perban
dan aku menyanyikan lagu Celine Dion – Tell Her. Itu lagu terakhir yang
berhasil kunyanyikan tanda bahwa aku rela pergi dan biarlah lirik lagu ini
menyampaikan isi hatiku padanya. Untuk terakhir kalinya aku mencium keningnya.
Pertama dan terakhir. Aku pergi dan mengucapkan selamat tinggal.
******
“Saya siap Dok” ujarku
“Semoga berhasil dengan rencana kita ya
Nak,”
“Iya Dok, Amin.”
******
Operasi pendonoran mata pun sukses besar.
Kesehatan Cinta juga lama kelamaan semakin pulih dan membaik. Saat Cinta sadar,
ia merasakan aneh pada kedua matanya. Ia menggunakan mata yang asing dan dia langsung
bertanya pada dokter.
“Apa yang terjadi Dok? Saya dimana?”
“Kamu sudah siuman dari kecelakaan maut
yang menyebabkan kedua matamu buta selamanya. Tapi kamu tenang saja, ada anak
muda bernama Gilang menyumbangkan kedua matanya kepadamu Nak. Dia mungkin
sangat mencintaimu, sampai-sampai rela mengorbankan kedua matanya dan nyawa
satu-satunya. Dan ia menitipkan ini padamu Nak,” kata dokter itu sambil
menyodorkan surat putih dari pemberianku.
“Terima kasih dok,”
Cinta pun membuka lipata kertas yang putih
itu dengan perlahan. Dengan doa dalam hati ia berhasil membaca tulisan demi
tulisan sang pendekar hatinya dengan mata yang sangat suci itu.
To : Cinta
Selama aku hidup di dunia
ini, aku tak pernah merasakan sesemangat hidup setelah mengenalmu. Hari-hariku
semakin berkembang jauh lebih baik dari sebelumnya. Hari berganti hari, rasa
cinta tumbuh pada diriku dan aku belum berani mengutarakannya, karena aku tak
pantas dari segi ekonomi buat kamu. Tapi, aku tidak menghiraukan itu, aku
mencoba menjadi orang yang sukses kelak dengan membawa engkau sebagai cinta
terakhirku.
Tapi suatu hari
semangatku sangat turun drastis, ketika aku melihat engkau sudah bersama dia.
Aku mencoba melakukan segala cara dan berdoa tiada henti-hentinya. Dengan
bantuan doa yang dikabulkan, aku diberi pilihan. Aku diberi pilihan untuk
mencintaimu dengan setulus hati lewat pengorbanan. Aku mengorbankan nyawaku dan
kedua mataku, agar kau kelak selalu mengigatku.
Sebelum aku berangkat aku
ingin lega saja, aku sudah memegang tanganmu lagi dan mencium keningmu. Kuharap
engkau tidak marah dan aku menyandung sebuah lagu, bahwa aku sangat mencintaimu
kapan pun dan dimana pun. Setelah aku lega aku sudah mengorbankan semua dan
berharap semua baik baik saja. Aku tetap mencintaimu, meski engkau sudah beda
dunia denganku.
Salam
Gilang
Tetesan air mata membasahi kertas putih
yang sedang digenggamg Cinta.
Selasa, 01 Maret 2016
Gambar Bargam
Sekopi IPA
Nyanyian daun mentransformasikan gesekan
Melambai mengetuk labirin plasma dunia
Beralaskan antartika dengan luas panjang tertera
Di otak dunia tergenggam cahya nyata
Bocah penikmat senyawa, anatomi, dan berbau ilmiah
Berbondong-bondong mengais ilmu pengetahuan
Getir mesin tubuh meresap bensin ilmu
Berakarkan tunggang menyerap zat pengetahuan
Tak terduga bongkahan gletser kebosanan menyublim
Membentuk sudut tepat di ubun-ubun bumi
Meisyaratkan daki hingga puncak melibatkan esensi perjuangan
Yang membuat ruang di antara tetes demi tetes
Tetes hitam putih coklat kelabu melarut
Tepat melarut di secarik cangkir putih kusam
Terangkum menjadi satu lautan kopi nan pahit
Tetapi esensi esensi gula kesabaran
Sekopi IPA diseruput anak muda penikmat senyawa
Sekopi IPA diracik anak muda perendam gravitasi
Sekopi IPA dihirup anak muda peretas gerak melingkar
Sekopi IPA untuk anak bangsa serta penggugah rasa
Sepahit IPA tersimpan manis pengetahuan
Melambai mengetuk labirin plasma dunia
Beralaskan antartika dengan luas panjang tertera
Di otak dunia tergenggam cahya nyata
Bocah penikmat senyawa, anatomi, dan berbau ilmiah
Berbondong-bondong mengais ilmu pengetahuan
Getir mesin tubuh meresap bensin ilmu
Berakarkan tunggang menyerap zat pengetahuan
Tak terduga bongkahan gletser kebosanan menyublim
Membentuk sudut tepat di ubun-ubun bumi
Meisyaratkan daki hingga puncak melibatkan esensi perjuangan
Yang membuat ruang di antara tetes demi tetes
Tetes hitam putih coklat kelabu melarut
Tepat melarut di secarik cangkir putih kusam
Terangkum menjadi satu lautan kopi nan pahit
Tetapi esensi esensi gula kesabaran
Sekopi IPA diseruput anak muda penikmat senyawa
Sekopi IPA diracik anak muda perendam gravitasi
Sekopi IPA dihirup anak muda peretas gerak melingkar
Sekopi IPA untuk anak bangsa serta penggugah rasa
Sepahit IPA tersimpan manis pengetahuan
Langganan:
Postingan (Atom)
