Sabtu, 12 Maret 2016

Pangkuan-Nya

Dia melangkah lelah di tepi langit
Menenteng sebakul lara
Selalu pasrah dengan rencana yang dirakit
Dengan asa tak nyerah namun pasrah
Berharap Sang Khalik punya bidik
Untuk melempar anak panah inginnya
Meluncur tegap seperti ia mau
Segala mau selalu begitu hingga terjadi
Mimpi lama yang dipaku di atas sajak ilusi
Terlilit utang budi tentang teh sepi
Yang tak berasa sampai lidah merana
Dia pernah menggengam boneka
Boneka titipan-Nya
Titipan Mahakuasa
Tuk dijaga
Hingga akhirnya . . .
Jiwa lemah kembali
Ke pangkuan-Nya
Selamanya


Jumat, 11 Maret 2016

Oh Malang

Terdengar ceritamu dari temanmu
Tapi sayang asmara bukan maumu
Semakin kudengar semakin kumemar
Bahwa jiwa kokoh telah nanar

Mendekatlah
Perlahan mawar ini layu di sini
Karena telah kau ambil mekarnya
Harumnya tak lagi semerbak

Lama tak berjumpa jiwa merdeka
Melahap dunia tak berwarna
Sebab mata tak mampu meraba
Melawan syair sang pujangga cinta

Mecintaimu bagai air laut
Pasang surut pasti selalu ada
Namun air laut
Memiliki rasa yang sama


Rabu, 09 Maret 2016

Apakah kita sudah berguna?

    Sumber : dari sahabat yang tak lelah memberi motivasi.

AN AN AN

Perlahan kawan membinatangkan aturan
Mendudukkan pendirian awan
Mengumpulkan kesenangan kesendirian
Menawan . . .

Teman mempertahankan keadilan
Berantakan . . .
Tawaran keabadian melawan Tuhan
Keperluan setan aman

Jangan lepaskan kepercayaan
Matikan segrombolan keanehan
Dengan membentangkan kekonyolan
Akan taman kejadian relevan

Perawan rupawan membisikkan
Kesengsaraan homo dan lesbian
Mengkhayalkan perbuatan nan kelewatan
Korban termakan zaman

Antologi Malam

Di ujung malam landai sayap tertegun
Membasahi baju rembulan yang anggun
Angin malam berenang menuju perut bumi
Mengukur dalamnya rahim yang sejengkal

Akal tak pernah tertawa terpingkal-pingkal
Melihat mata terbelalak menerawang awang
Agar senja tetap terjaga di ujung pagi
Pagi suci mengayomi jiwa berhati sunyi

Kesenjangan tak pernah merasa mempunyai jarak
Ketidakselarasan tak pernah merasa sejalan
Sebab malam tak pernah melupakan gelap
Terlebih gelapnya baju sang bulan

Lalala
Aduhai ini malam terbuka lebar
Menunggu pasangan menari

Lalala
Lihat malam tak pernah jenuh
Menjahit koyakan semesta yang acuh

Lalala
Lala
La
Aku rindu antologi malam

Senin, 07 Maret 2016

Cermin Abadi

Engkau menunggang bulan di malam hari
Menuju pulang ke padang bintang
Tak pernah terlambat tuk berbaring rapi
Menembus dunia mimpi di atas api


Kau adalah lembaran pagi
Memilin embun berbaju mentari
Tak lagi aku mencari permaisuri
Di tepi pantai berdiri memiliki hati suci


Aku sedari ingin
Selalu abadi
Abadi menjadi cermin
yang kelak kau tatap


Sembari kau memantas dan mematut diri
Memuka diri
Tepat di hari
Hari halal yang kekal

Kamis, 03 Maret 2016

AKU KAU

                Dia tidak berubah atau ketetapan melekat erat padanya. Lelaki itu sedang duduk menunggu. Tepatnya menunggu kedatanganku. Namanya Aldo. Dia tidak bergerak dari tempat duduknya. Kaos hitam yang kusut yang membalut tubuhnya menemani sepinya. 
                Rambutnya panjang seperti gitaris ternama dunia, Slash sang gitaris Gun n Roses, menjadi ciri khasnya. Tidak berubah. Esensinya sebagai dua sosok yang berubah ternyata tidak menyisakan ruang. Bagian lengan hingga ujungnya telanjang merupakan kebiasaan. Kebiasaan memamerkan lukisan indah di tubuhnya.
                Gurita yang mengeluarkan tinta di dadanya sebagai pusat utama di lukisan tubuh. Sehingga mengalir salib-salib yang menggantung terlukis di punggungnya. Lukisannya tidak indah tanpa guratan nama ibu yang melahirkannya ke dunia ini. 
                Urat-urat yang timbul juga tersirat menjadi lukisan alami sehingga sekujur tubuh menjadi kanvas bagi pencinta lukisan di tubuh manusia. Apakah ibunya tidak melarang? Ibunya pernah melarang, tetapi ketika mengetahui terlukis guratan nama ibunya, ibunya hanya bisa tersenyum dan menyelipkan sepucuk doa.
Aldo elwdyan. Nama tersebut pemberi kakeknya. Kakeknya seorang musisi terkenal pada masanya. Buah tidak jauh jatuh dari batangnya. Wajar saja darah Aldo mengalir darah musisi. Setiap detik merupakan sepenggal tangga tempat ia duduk. Setiap jam merupakan sepotong waktu untuk memetik. Setiap hari merupakan pintalan senar yang berbunyi. Setiap saat bisa jadi tempatnya berhubungan intim dengan gitar kesayangannya.
Aku adalah kekasihnya yang nomor dua, karena kekasihnya yang pertama yakni gitar kesayangannya. Malam ini aku ingin bertemu dengannya. Rindu? Bukan. Hanya ingin melihatnya saja.
Dia mulai menyadari bahwa aku menyadari kehadirannya dan dia juga tersadar ketika aku tersadar melihat kesadarannya. Dia menyiratkan secarik senyum di wajahnya yang kusut dan aku melambaikan tanganku dan menuju ke arahnya.
*****
Ternyata dia tidak sadar bahwa aku melihat sosoknya di sela-sela aku menikmati dinginnya malam ini. Tidak ada yang berubah padanya. Masih saja seperti dulu. Rambut nya yang tergurai memeluk bahunya. Celana sobek yang kerapkali membalut separuh tubuhnya. Terlebih kaos yang selalu ditemani jaket panjangnya.Namun dia adalah perempuan yang aku cinta.
Terkadang aku merasa aneh melihat mahluk satu ini. Si kutuk buku. Tetapi aneh, kutu yang satu ini tidak terserang cacat pada matanya akibat baca dan baca. Mungkin buku yang ia baca bisa menjadi perpusatakaan keliling di kampung. Wanita yang tak pernah memperhatikan penampilan itu tetap saja tidak menyadari kesadaranku yang sedang menyelidik ketidaksadarannya.
Namanya Sonia. Di garis keturunannya tidak ada yang berbau seni dan sastra. Namun, garis ilmiah dan sains lah yang ada. Namanya saja perempuan aneh. Lari dari jalurnya.
Mungkin akibat teater yang ia geluti membuat penampilan bukanlah suatu hal yang penting. Buku-buku yang ia tulis juga kerap tidak menarik perhatiannya untuk mengubah penampilannya.
Namun, mungkin ini salah satu pemikat yang memikatku senang bersamanya. Hubungan yang kami jalin pun kerap berjalan dengan baik. Mungkin saja aku esensi keberuntungan memisahkan jarak antara kami. Kegemarannku membawaku ke panggung impianku sehingga aku terpaksa meninggalkannya sebab ia masih mengais sarjananya.
Sengaja aku memesannya agar bertemu di titik ia sekarang berdiri memandang kosong depan tersebut. Agar aku bisa mengagguminya sejenak dari kejauhan ini. Ah sudahlah. Sudah lumayan lama tercipta ketidaksadaran di antara kami.
 Aku mulai memandang dan mulai tersenyum kepadanya mengisyaratkan agar dia mendekat. Lalu dia melambai pelan ke arahku duduk. Dia mulai mengayunkan langkah hingga mendekat dan duduk tepat di depanku. Lampion menjadi penerang tepat di atas kepala kami berdua.
*****
Sosok sudah tepat berada di hadapanku. Rambutnya yang membuat tampak dia seram namun tidak bagiku. Lukisan-lukisa di tangan-tangannya seakan-akan menari-nari dan melompat-lompat menyambut kedatangannku. Aku melihat jari-jarinya yang agak kusut akibat latihan mempersiapkan konser kemarin mungkin.
Akhirnya ia dapat berdiri tegak di panggung impinya. Dan aku sepertinya mulai tidak mungkin lagi berada di sampingnya. Karena ia sudah punya nama yang tidak seperti dulu. Dia mulai memandang mataku yang keliling luas ruang menelidik tubuhnya. Aku mulai terpaku. Aku harus mengutarakan ini.
Tapi mulai dari mana? Darimana sehingga perjalanan ini bisa aku jalani lagi. Orang sudah berbusa-busa memotivasiku agar berani mengutarakan ini. Apakah aku mengatakan bahwa aku tidak ingin jauh-jauh darimu karena dia sudah menggenggam mimpinya? Atau apakah aku harus mengatakan bahwa aku harus mundur sebab ketika dia mengenggam mimpinya dia tidak bisa melirik aku sedikitpun setelah dia sudah jauh pergi bersama mimpinya.
Aku harus katakan sesuatu. Aku mulai mendongakkan daguku dan mulai menggetarkan bibirku agar lidah tidak kelu.
“Aku ingin katakan sesuatu,” ternyata mulut kami serentak mengatakan hal yang sama. Lalu dia perlahan memegang tanganku.
*****
Sosok sudah tepat berada di hadapanku. Aku ingin memeluk dingin tubuhnya. Namun ada yang mengusik pikirannya. Mungkin mengusik pikiranku juga. Tapi seharusnya aku merasa senang sudah berada di dekatnya. Dia seakan ingin mengatakan kata meracik menjadi sebuah kalimat.
Tetapi sebelum dia mengutarakannya aku juga harus mendahuluinya dengan terpaksa. Melihat kesibukanku belakngan ini aku sudah mengusi hatinya. Mungkin ini adalah pilihan berat. Pilihan impian atau pilihan dia. Sepertinya aku harus menyuruh dia berhenti sarjananya dan mengikuti aku kemanapun aku pergi atau haruskah aku menghentikan mimpiku yang sudah lama aku idamkan?
Mungkin, hidup adalah pilihan. Dan sekiranya bukan pilihan lah yang menentukan suatu hidup. Namun hiduplah yang seharusnya menentukan suatu pilihan,bukan?
Sepertinya dia sudah mendongakkan dagunya dan mulai menggetarkan bibirnya untuk bicaranya. Tidak. Aku juga ingin mengatakan sebelum dia katakan sesuatu.
“Aku ingin katakan sesuatu,” ternyata mulut kami serentak mengatakan hal yang sama. Lalu aku memegang tangannya secara lembut.
“Katakanlah sesuatu,” ujarku sambil membiarkan dia mengeluarkan sepatah kata.
*****
“Aku takut,” ucapku terdengar berbisik.
“Aku takut kau tidak dapat lagi menggemgam mimpimu berada di panggung yang telah lama kau mimpikan. Mungkin aku sebuah penghalang. Tapi aku takut. Mungkin sekarang kita tidak berada di pondasi yang sama. Tapi aku rela kau beralih ke pondasi yang sana.” Mulutku bergetar mengatakan kalimat demi kalimat. Diiringi dengan aliran air mata yang membasahi pipiku yang kusam. Tangannya mulai mengusap ujung rambutku. Tapi itu membuatku semakin ingin menangis sekencang-kencangny.
*****
                Dia mulai mendongak dan menggetarkan mulutnya. Aku mendengar kata-kata bahwa ia takut. Lalu kalimat selanjutnya menusuk sistem otak kiriku. Aku mulai terdiam. Seluruh perederan darahku berhenti seketika. Sehingga jantungku mulai lupa cara memompa darahku. Aku mulai mengusap ujung kepalanya dan mulai mendekat ke sampingnya.

                “Aku lebih takut kehilanganmu. Sudahlah aku tak ingin kehilanganmu,” perlahan aku sirapkan pelukan untuk meredam tangisnya yang semakin kencang.

GILANG (karya lawas)

Benturan angin malam merebak keheningan yang menemani sang rembulan dan bintang-bintang yang menghiasi langit malam. Cahaya bulan dan kemilau bintang-bintang merindangi isi muka bumi. Burung hantu dan kelelawar malam mencari nafkah buat kebutuhan perutnya yang sudah tak sabaran untuk diisi. Suara-suara yang mengerumuni udara di hamparan tengah malam menemani sosokku yang rapuh sedang termenung memandang langit yang kelam.
Ada sesuatu yang mengganjal hatiku. Hati ini selalu terusik oleh pengalaman yang sangat tak dapat masuk oleh akalku membuat aku tidak bisa tidur semalaman. Aku duduk termangu memandang langit yang kelam, serasa berada di hamparan padang langit yang menyelimuti hati yang gersang.
Sebenarnya hatiku diganjal oleh suatu masalah yang masih kabar burung. Kabar itu pun disampaikan lewat pesan singkat teknologi ,SMS, dari Bintang, sahabat dekatku. Pesan singkat itu berisi Cinta, cewek pendekatanku(pdkt), dating dengan anak baru yang mirip orang bule itu. Inilah efek samping memiliki emosi yang berlebihan, terlalu mudah tersinggung.
Aku tak bisa selalu begini dan tak akan pernah bisa begini. Aku coba berdiri dari dudukan yang telah lama kududuki, lalu meninggalkan kamar. Aku keluar rumah dan langsung menunggang sepeda milikku menuju rumah Bintang. Semoga saja dia belum pergi ke alam mimpi. Semakin lama laju sepeda tunggangku semakin cepat menembus angin.
Aku tiba di halaman yang masih alami bertema go green, pohon-pohon dari kecil ke besar, bunga-bunga yang ramai sampai satu-satu menghiasi halaman yang cukup luas ini. Lampu remang-remang menghiasi halaman hijau dan sangat indah tentunya. Lampu bercahaya dari dalam rumah, itu menandakan bahwa pemilik rumah belum pada pergi ke alam mimpi.
Aku menekan bel beberapa kali. Sedetik kemudian, di balik pintu, sudah berdiri sosok Bintang yang mukanya tampak mulai mengantuk.
“Selamat malam Bro, ada gerangan tadi? Ayo masuk dulu!” suaranya mengiringiku masuk ke dalam rumah.
“Belum tidur?” tanyaku singkat.
“Hahaha.. Aneh loe. Kan gue belum molor, berarti belum lah.”
“Iyaiya. Ehm, begini Bro.”
“Apaan sih? Plinplan banget.”
“Emang betul loe gak salah liat, bahwa Cinta, cewek yg gue incar, jalan sama si bule itu?”
“Iyalah, mana mungkin gue salah liat.”
“Pantas saja dia cuek dan mengancam aku untuk putus samanya?”
“Mungkin juga karena bule itu.” Jawabnya acuh.
“Apa gue harus ahli bermain gitar dan nyanyi biar bisa bersaing dengan bule itu?”
“Gue kurang tau Bro, setau gue juga loe harus jadi diri sendiri. Jangan jadi orang lain.”
“Loe tau kan gimana rasanya dan hancurnya perasaan loe, saat loe sedang dekat-dekatnya sama cewek yang loe taksir, eh tiba-tiba, sudah diambil orang?”
“Hahaha.. Loe terlalu melankonis kawan. Loe terlalu kesinetronan. Bukan hanya dia cewek di dunia ini. Bukan hanya dia.”
“Tapi aku merasa nyaman setelah sekian lama aku bisa melupakan Tika, mantan gue itu.”
“Buka mata loe, bukan hanya dia perempuan.” Ucap bintang dengan nada naik.
“Seandainya loe tahu bagaiaman sekarang hati gue yang sudah hancur berkeping-keping ini.”
“Loe terlalu banyak baca novel yang berbau cinta. Jadi loe cinta mati ama si Cinta. Gila loe. Loe cowok tergila gue liat.”
“Terserah loe.” Ucapku sambil menghembuskan nafas keputusasaan.
Kesunyian menyelimuti di antara mereka. Tak ada satu pun yang mengeluarkan suara yang berlaras dengan dinginnya malam itu. Hari semakin larut, udara dingin mulai menurunkan suhunya untuk menyambut pagi yang cerah esok. Langit dan bumi seakan tak pernah berkompromi mengatur suhu yang sangat dingin.
“Jadi, bagaimana keputusan loe?”
“Gue tetap ngejar cinta gue.”
“Gak salah tuh, seorang preman merengek karena cinta saja. Makan tuh cinta.”
“Apa salahnya berusaha? Sebeku apapun hati manusia, jika selalu disentuh dengan perasaan, pasti akan cari juga.”
“Tapi kapan Gilang? Kapan?”
“Gue gak tahu, mungkin Tuhan Cuma yang tahu.”
“Hanya berdoa jalan terakhir Bro,” ucap Bintang sambil memegang pundakku.
Aku hanya bisa menahan air mata ini untuk tak menetes. Butuh perjuangan yang sangat berat dipikul untuk kembali bisa mendapat keceriaan itu.

Cinta memang gila dan bisa membuat kita lupa daratan

****
Di pepohonan yang masih rindang dengan embun yang masih segar, terdengar kicauan burung yang sangat merdu. Jika burungnya mengerti not-not dan nada-nada yang segala macam itu, pasti akan bisa dibawa ke ajang festival tarik suara dan bisa menjadi lawan berat manusia yang memiliki suara merdu. Tapi suara merdu burung itu tak semerdu suasana di hatiku.
Meski di ufuk timur sudah terbit mentari pagi yang menampakkan kilau cahayanya yang keemasan menembus jendela kamarku yang sudah terlihat kusam dan semua itu tak lagi bisa kuhiraukan. Inikah namanya penyakit cinta stadium akut. Apa yang harus kulakukan, apakah aku harus melankonis mengakhiri sebuah hidup yang paling kelam ini sebelum ditinggal namanya Cinta, sang pujaan hati.
Aku hanya termenung di bawah mentari pagi yang masih berusaha payah terbit mengutarakan cahayanya yang tak akan pernah habis jika tak diambil sang Empunya. Gemersik daun-daun berguguran dari batangnya dan pucuk-pucuknya habis dimakan ulat green tea J. Dan hal yang kulakukan untuk hari ini ialah mencoba tersenyum dengan doa yang kupanjatkan.
****
Pertama aku harus bisa mengambil hati Cinta. Aku harus bisa bermain gitar sambil bernyanyi seperti sering dilakukan cowok bule itu kepada Cinta. Aku juga harus membeli sepeda motor yang terlihat modis dan jantan untuk membawa Cinta kemana saja kami melabuhkan cinta yang akan kami padu bersama. Dan sekarang aku harus menjual semua yang kupunya.
Aku memiliki sepeda yang masih dapat dikatan baru untuk versi enam bulan yang lalu. Sepeda ini masih setengah tahun menemaniku berjalan di jalan yang sangat jauh ditempuh memakan banyak peluh keringat. Aku juga harus rela tak lagi menunggang sepeda kesayanganku ini, aku harus berjalan bersama kakiku yang masih bisa dibilang kokoh dan tegar menghadapi banyak cobaan. Dan aku yakin bisa.
Aku juga memiliki surat rumah untuk menggadaikan rumahku satu-satunya di dunia yang fana ini. Soalnya harga sepeda motor yang jantan itu sangat mahal. Aku harus menjual semua harta milikku, kecuali yang menempel pada badanku, itupun hanya baju sepasang. Itu lah cinta, cinta butuh pengorbanan. Semoga saja berhasil.
Aku juga punya ide untuk berjalan kaki menyusuri perempatan jalan di tengah lampu lalu lintas untuk merenggut gitar jalanan milik anak jalanan. Aku juga tidak bisa menahan nafsuku untuk menguatkan bahwa cintaku pada Cinta sangatlah besar adanya. Aku sudah mempunya ide yang bisa dibilang gila, karena aku seorang cowok yang gila.
Biasanya cowok gila sangat cocok dengan cewek judes. Karena itu merupakan kombinasi antara plinplan dan melankonis yang dipadu dalam bahasa alam untuk memudarkan apa artinya cinta sesungguhnya. Aku tak mengerti apa bahasa yang keluar dari aura tubuhku dan aku tak pahan kenapa aku bisa melakukan semua bahasa yang kugerakkan melalui jari jari kecilku ini.


Di sebuah toko
Aku tiba di sebuah emperen toko dengan degupan jantung yang tak karuan. Aku langsung mengutarakan apa yang ada dalam isi otakku.
“Cang aku mau menjual handphone.” Ucapku lirih dengan nada memelas.
“Haiya, ho mau jual ya. Gue tawar enam ratus rebu,” jawab ngkong cina pemilik toko itu.
“Tujuh ratuslah Cang, butuh banget duit gue. Ini masih bagus dan terawat kok, meski udah second
“Loe berani tawar, langsung angkat kaki.”
“Oke-oke deal cang,”
“Enam ratus rebu,” tanganku tak rela menyodorkan handphone kesayanganku kepadanya.
“Terimakasih,”



Di kantor pegadaian
Dengan sengaja aku menjual terakhir sepedaku, karena aku tak ingin berjalan lebih jauh menuju rumahku.
“Selamat siang Pak.” Sapaku dengan sangat santun.
“Siang.” Jawab penajaga yang bertugas saat itu dengan cuek amat.
“Saya mau meminjam uang 50 juta Pak.”
“Dengan jaminan?”
“Surat tanah Pak.” Sembari memberi surat tanah yang dari tadi kugenggam.
“Hah. 50 juta ? dengan luas tanah 6x4 meter. Hanya bisa 20 juta.”
“Gak bisa tambah lagi Pak?”
“Sudah harga mati.”
“Baiklah Pak.”
Dengan uang dua puluh juta enam ratus ribu aku melangkahkan kakiku menuju jalur selanjutnya. Ternyata sangat letih juga berjalan seharian penuh tanpa istrahat. Dari bangun pagi hingga sekarang aku belum mengisi sedikit pun perutku yang sejengkal ini. Padahal panas matahari sudah sangat menyengat sehingga peluh keringatku bercucuran tak karuan. Aku menghentikan perjalanan sejenak ke warung tegal untuk mengisi tenagaku.
Aku memarkirkan sepedaku di lapangan parkir yang agak luas itu. Aku masuk ke dalam warung tersebut, dan sedikit udara adem menjelajahi sekujur tubuhku dengan godaan sensasi dingin keringnya. Aku memesan nasi campur dengan lauk tahu tempe dan telur goreng ceplok. Aku juga tidak lupa memesan jus jeruk, supaya aku selalu mengingat momen dengan pujaan hatiku, Cinta, mbak judes terkasihku.
Memang aku juga tak tahu aku kenapa begini. Pantas saja aku disebut cowok gila. Biarin saja, gila-gila gini yang penting ada usaha dan niat. Dimana ada niat dan usaha di situ terdapat jalan yang tak akan pernah kita dapat. Tapi mungkin yang kulakukan ini tidak menghasilkan apa-apa. Namanya juga sudah cinta, taik kambing rasanya coklat.
“Silahkan Bang.” Sauara kemayu dari seorang pelayan mengacaukan pikiranku yang ngelantur.
“Terima kasih Mbak.” Jawabku dengan sigap.
Aku memerhatikan isi piring yang ada dihadapanku. Perutku mulai berbunyi, sepertinya cacing-cacing di dalam tubuhku sudah demo. Bukan demo untuk kenaikan BBM, tetapi kekurangan bahan bakar untuk membakar semua yang ada dalam tubuhku ini.
Secara perlahan, butiran-butiran nasi yang kian penuh, secara merambat berkurang akibat kerja sama antara mulut dan perutku menguyah secara kompak. Aku meneguk beberapa tegukan air putih yang membasahi kerongkonganku. Tapi, seperkiandetik kemudian, aku mendecak dan terbatuk-batuk. Aku melihat suatu yang aneh pada layar televisi.
Aku melihat berita yang melontarkan bahwa kijang merah dengan nomor polisi N1N4 telah mengalami kecelakaan yang sangat tragis. Pengemudi seorang wanita yang masih muda mengalami luka parah dan kritis. Aku segera berlari ke tempat kejadian itu, tanpa membayar yang telah kupesan. Aku yakin itu adalah Cinta, dia kecelakaan, aku tak percaya.
Aku tiba di jalan raya dengan nafas terengah-engah. Aku melihat sekujur tubuh Cinta penuh lara dan darah yang sangat seram. Semua orang yang ada di sini tidak membantu, malah mengambil kamera. Dasar manusia tak berprikeadilan. Aku benci dengan mereka yang mempertontonkan nyawa manusia yang hampir melayang. Nyaris saja.
Aku menggendong tubuh Cinta ke taxi dengan sigap untuk membawa sosok tubuh Cinta ke rumah sakit terdekat. Aku sangat takut. Aku memegang tangannya yang sangat halus itu dan berdoa dalam hati semoga ia selamat.
“Kenapa ini terjadi ya Tuhan?” keluhku dalam batin.
Aku terus menggendong tubuh yang penuh luka dan darah itu ke ruang IGD. Para suster dan dokter dengan cepat menangani yang menimpa Cinta. Aku tidak diperbolehkan masuk ke dalam ruangan yang sangat putih itu. Aku harus menunggu dengan sabar berjam-jam.
****
Sekian lama aku menunggu dengan harapan yang setengah kosong. Aku mondar-mandir. Aku sudah gila. Aku lebih gila jika aku kehilangan ia selamanya. Aku menunggu. Menunggu. Seandanginya aku bisa menggantikan posisinya, dia pasti tak akan merasakan sepahit ini.
Pintu ruangan itu terbuka dengan secara perlahan, seorang dokter dengan steteskop yang tergantung di lehernya dengan sedikit wajah murung mendapatkan aku yang sedang menunggu tanpa pasti.
“Bagaimana Dok?” aku tak sabaran mendengar bagaimana kabarnya.
“Apa kamu kerabat pasien?”
“Iya Dok, saya kerabatnya. Bagaimana Dok?”
“Nyawanya terselamatkan,”
“Syukur,” aku menghembuskan napas panjang dan lega juga akhirnya.
“Tapi, dia buta selamanya,”
“Apa?”
“Iya, dia buta selamanya. Kedua matanya tertusuk benda tajam dan menyebabkan aliran darah membuat kedua bola matanya rusak total. Tapi dia bisa melihat, jika ada manusia yang berhati baik mendonorkan kedua bola matanya sekaligus nyawanya juga.”
“Saya Dok, saya bisa, saya bisa Dok. Ayolah Dok, jangan bingung, aku ingin dia selamat. Jangan hiraukan saya,”
“Apa kamu sudah memikirkannya matang-matang?”
“Iya,” ucapku sedih.
“Jangan terlalu gegabah anak muda, hidupmu masih panjang.”
“Tapi dia sangat berarti bagiku Dok.”
“Baiklah jika itu maumu, akan kuturuti. Kalau boleh secepatnya, besok pagi bagaimana?”
“Saya siap Dok”
DEMI CINTA
**********
Sebelum melakukan operasi donor mata, aku menyempatkan diri untuk berkunjung ke ruang inap Cinta. Aku memegang tangannya. Aku jadi teringat, aku cowok yang pertama kali yang berani nyentuh tangannya. Kan aku gilak, wajar saja. Aku mencoba memegang kepalanya yang dipenuhi perban dan aku menyanyikan lagu Celine Dion – Tell Her. Itu lagu terakhir yang berhasil kunyanyikan tanda bahwa aku rela pergi dan biarlah lirik lagu ini menyampaikan isi hatiku padanya. Untuk terakhir kalinya aku mencium keningnya. Pertama dan terakhir. Aku pergi dan mengucapkan selamat tinggal.
******
“Saya siap Dok” ujarku
“Semoga berhasil dengan rencana kita ya Nak,”
“Iya Dok, Amin.”

******
Operasi pendonoran mata pun sukses besar. Kesehatan Cinta juga lama kelamaan semakin pulih dan membaik. Saat Cinta sadar, ia merasakan aneh pada kedua matanya. Ia menggunakan mata yang asing dan dia langsung bertanya pada dokter.
“Apa yang terjadi Dok? Saya dimana?”
“Kamu sudah siuman dari kecelakaan maut yang menyebabkan kedua matamu buta selamanya. Tapi kamu tenang saja, ada anak muda bernama Gilang menyumbangkan kedua matanya kepadamu Nak. Dia mungkin sangat mencintaimu, sampai-sampai rela mengorbankan kedua matanya dan nyawa satu-satunya. Dan ia menitipkan ini padamu Nak,” kata dokter itu sambil menyodorkan surat putih dari pemberianku.
“Terima kasih dok,”
Cinta pun membuka lipata kertas yang putih itu dengan perlahan. Dengan doa dalam hati ia berhasil membaca tulisan demi tulisan sang pendekar hatinya dengan mata yang sangat suci itu.

To : Cinta
Selama aku hidup di dunia ini, aku tak pernah merasakan sesemangat hidup setelah mengenalmu. Hari-hariku semakin berkembang jauh lebih baik dari sebelumnya. Hari berganti hari, rasa cinta tumbuh pada diriku dan aku belum berani mengutarakannya, karena aku tak pantas dari segi ekonomi buat kamu. Tapi, aku tidak menghiraukan itu, aku mencoba menjadi orang yang sukses kelak dengan membawa engkau sebagai cinta terakhirku.
Tapi suatu hari semangatku sangat turun drastis, ketika aku melihat engkau sudah bersama dia. Aku mencoba melakukan segala cara dan berdoa tiada henti-hentinya. Dengan bantuan doa yang dikabulkan, aku diberi pilihan. Aku diberi pilihan untuk mencintaimu dengan setulus hati lewat pengorbanan. Aku mengorbankan nyawaku dan kedua mataku, agar kau kelak selalu mengigatku.
Sebelum aku berangkat aku ingin lega saja, aku sudah memegang tanganmu lagi dan mencium keningmu. Kuharap engkau tidak marah dan aku menyandung sebuah lagu, bahwa aku sangat mencintaimu kapan pun dan dimana pun. Setelah aku lega aku sudah mengorbankan semua dan berharap semua baik baik saja. Aku tetap mencintaimu, meski engkau sudah beda dunia denganku.
Salam
Gilang
Tetesan air mata membasahi kertas putih yang sedang digenggamg Cinta.


Selasa, 01 Maret 2016

Gambar Bargam

Terkadang hidup memang tidak seperti keinginan bahkan pendapat kita.
Ini merupakan sesi penyuluhan mengenai Kata pada Gambar (Taka pada Bargam)

Sekopi IPA

Nyanyian daun mentransformasikan gesekan
Melambai mengetuk labirin plasma dunia
Beralaskan antartika dengan luas panjang tertera
Di otak dunia tergenggam cahya nyata

Bocah penikmat senyawa, anatomi, dan berbau ilmiah
Berbondong-bondong mengais ilmu pengetahuan
Getir mesin tubuh meresap bensin ilmu
Berakarkan tunggang menyerap zat pengetahuan

Tak terduga bongkahan gletser kebosanan menyublim
Membentuk sudut tepat di ubun-ubun bumi
Meisyaratkan daki hingga puncak melibatkan esensi perjuangan
Yang membuat ruang di antara tetes demi tetes

Tetes hitam putih coklat kelabu melarut
Tepat melarut di secarik cangkir putih kusam
Terangkum menjadi satu lautan kopi nan pahit
Tetapi esensi esensi gula kesabaran  

Sekopi IPA diseruput anak muda penikmat senyawa

Sekopi IPA diracik anak muda perendam gravitasi
Sekopi IPA dihirup anak muda peretas gerak melingkar
Sekopi IPA untuk anak bangsa serta penggugah rasa

Sepahit IPA tersimpan manis pengetahuan