Selasa, 14 Juni 2016

SAJAK UJIAN

Awal kukenal
Tak ada rasa yang berbeda
Perlahan aku tak acuh
Lalu dikau menjauh
Namun, sejak ada dia
Aku terpaksa melirikmu
Dia hikayatnya syarat tuk kuperoleh togaku
Kudekati mu, namun kau tak acuh
Kusapa mu, namun kau tak menoleh
Tiba saatnya hari itu berkibar
Aku pun kehilangan teman-temanku
Selaput dara otakku dikoyak oleh soal-soal
Aku diperkosa namun tak berdarah
Lelah ku kalah
Hingga asa tak terbendung tenggelam

MABA (MAHASISWA BARU)

Kalau itu kicauan pipit merenggut tidurku
Kuterbangun bukan ku ingin menikmati
Tarian mentari di panggung ufuk timur
Namun, kuingin meneladah
Koran yang terbit membawa kabar bagiku
Ku senang ku bahagia ku teriak
Tergores namaku di lembarang kedua koran
Ku bersujud ku berbisik
“Akhirnya aku kuliah juga,Bu”
Mengulang sajak ini saat togaku bersinggasana di kepalaku
Semoga air mataku meleleh membasahi semua lara

KULIAH

Labirin fajar terkoyak sepi
Memuntahkan sinar embun pagi
Lari tak mungkin sendiri
Sebab jiwa tak ingin bangun dari mimpi

Inginku dulu melewati batas mimpi
Hasrat yang membawakan bisa berdiri di sini
Melewati ilmu yang dikaji dari awal pagi
Apakah terlalu dini aku berpuisi?

Sudah tak usah kuliah jika lelah
Lemah hati yang ditelaah, namun selalu patah
Marah . . .
Lalu luntuh lantah semua anugerah
Kuliah bukan mengeluh

Sabtu, 12 Maret 2016

Pangkuan-Nya

Dia melangkah lelah di tepi langit
Menenteng sebakul lara
Selalu pasrah dengan rencana yang dirakit
Dengan asa tak nyerah namun pasrah
Berharap Sang Khalik punya bidik
Untuk melempar anak panah inginnya
Meluncur tegap seperti ia mau
Segala mau selalu begitu hingga terjadi
Mimpi lama yang dipaku di atas sajak ilusi
Terlilit utang budi tentang teh sepi
Yang tak berasa sampai lidah merana
Dia pernah menggengam boneka
Boneka titipan-Nya
Titipan Mahakuasa
Tuk dijaga
Hingga akhirnya . . .
Jiwa lemah kembali
Ke pangkuan-Nya
Selamanya


Jumat, 11 Maret 2016

Oh Malang

Terdengar ceritamu dari temanmu
Tapi sayang asmara bukan maumu
Semakin kudengar semakin kumemar
Bahwa jiwa kokoh telah nanar

Mendekatlah
Perlahan mawar ini layu di sini
Karena telah kau ambil mekarnya
Harumnya tak lagi semerbak

Lama tak berjumpa jiwa merdeka
Melahap dunia tak berwarna
Sebab mata tak mampu meraba
Melawan syair sang pujangga cinta

Mecintaimu bagai air laut
Pasang surut pasti selalu ada
Namun air laut
Memiliki rasa yang sama


Rabu, 09 Maret 2016

Apakah kita sudah berguna?

    Sumber : dari sahabat yang tak lelah memberi motivasi.

AN AN AN

Perlahan kawan membinatangkan aturan
Mendudukkan pendirian awan
Mengumpulkan kesenangan kesendirian
Menawan . . .

Teman mempertahankan keadilan
Berantakan . . .
Tawaran keabadian melawan Tuhan
Keperluan setan aman

Jangan lepaskan kepercayaan
Matikan segrombolan keanehan
Dengan membentangkan kekonyolan
Akan taman kejadian relevan

Perawan rupawan membisikkan
Kesengsaraan homo dan lesbian
Mengkhayalkan perbuatan nan kelewatan
Korban termakan zaman