Benturan angin malam merebak keheningan
yang menemani sang rembulan dan bintang-bintang yang menghiasi langit malam.
Cahaya bulan dan kemilau bintang-bintang merindangi isi muka bumi. Burung hantu
dan kelelawar malam mencari nafkah buat kebutuhan perutnya yang sudah tak
sabaran untuk diisi. Suara-suara yang mengerumuni udara di hamparan tengah
malam menemani sosokku yang rapuh sedang termenung memandang langit yang kelam.
Ada sesuatu yang mengganjal hatiku. Hati
ini selalu terusik oleh pengalaman yang sangat tak dapat masuk oleh akalku
membuat aku tidak bisa tidur semalaman. Aku duduk termangu memandang langit
yang kelam, serasa berada di hamparan padang langit yang menyelimuti hati yang
gersang.
Sebenarnya hatiku diganjal oleh suatu
masalah yang masih kabar burung. Kabar itu pun disampaikan lewat pesan singkat
teknologi ,SMS, dari Bintang, sahabat dekatku. Pesan singkat itu berisi Cinta,
cewek pendekatanku(pdkt), dating dengan anak baru yang mirip orang bule
itu. Inilah efek samping memiliki emosi yang berlebihan, terlalu mudah
tersinggung.
Aku tak bisa selalu begini dan tak akan
pernah bisa begini. Aku coba berdiri dari dudukan yang telah lama kududuki,
lalu meninggalkan kamar. Aku keluar rumah dan langsung menunggang sepeda
milikku menuju rumah Bintang. Semoga saja dia belum pergi ke alam mimpi.
Semakin lama laju sepeda tunggangku semakin cepat menembus angin.
Aku tiba di halaman yang masih alami
bertema go green, pohon-pohon dari kecil ke besar, bunga-bunga yang
ramai sampai satu-satu menghiasi halaman yang cukup luas ini. Lampu
remang-remang menghiasi halaman hijau dan sangat indah tentunya. Lampu
bercahaya dari dalam rumah, itu menandakan bahwa pemilik rumah belum pada pergi
ke alam mimpi.
Aku menekan bel beberapa kali. Sedetik
kemudian, di balik pintu, sudah berdiri sosok Bintang yang mukanya tampak mulai
mengantuk.
“Selamat malam Bro, ada gerangan tadi? Ayo
masuk dulu!” suaranya mengiringiku masuk ke dalam rumah.
“Belum tidur?” tanyaku singkat.
“Hahaha.. Aneh loe. Kan gue belum molor,
berarti belum lah.”
“Iyaiya. Ehm, begini Bro.”
“Apaan sih? Plinplan banget.”
“Emang betul loe gak salah liat, bahwa
Cinta, cewek yg gue incar, jalan sama si bule itu?”
“Iyalah, mana mungkin gue salah liat.”
“Pantas saja dia cuek dan mengancam aku
untuk putus samanya?”
“Mungkin juga karena bule itu.” Jawabnya
acuh.
“Apa gue harus ahli bermain gitar dan
nyanyi biar bisa bersaing dengan bule itu?”
“Gue kurang tau Bro, setau gue juga loe
harus jadi diri sendiri. Jangan jadi orang lain.”
“Loe tau kan gimana rasanya dan hancurnya
perasaan loe, saat loe sedang dekat-dekatnya sama cewek yang loe taksir, eh
tiba-tiba, sudah diambil orang?”
“Hahaha.. Loe terlalu melankonis kawan. Loe
terlalu kesinetronan. Bukan hanya dia cewek di dunia ini. Bukan hanya dia.”
“Tapi aku merasa nyaman setelah sekian lama
aku bisa melupakan Tika, mantan gue itu.”
“Buka mata loe, bukan hanya dia perempuan.”
Ucap bintang dengan nada naik.
“Seandainya loe tahu bagaiaman sekarang
hati gue yang sudah hancur berkeping-keping ini.”
“Loe terlalu banyak baca novel yang berbau
cinta. Jadi loe cinta mati ama si Cinta. Gila loe. Loe cowok tergila gue liat.”
“Terserah loe.” Ucapku sambil menghembuskan
nafas keputusasaan.
Kesunyian menyelimuti di antara mereka. Tak
ada satu pun yang mengeluarkan suara yang berlaras dengan dinginnya malam itu.
Hari semakin larut, udara dingin mulai menurunkan suhunya untuk menyambut pagi
yang cerah esok. Langit dan bumi seakan tak pernah berkompromi mengatur suhu
yang sangat dingin.
“Jadi, bagaimana keputusan loe?”
“Gue tetap ngejar cinta gue.”
“Gak salah tuh, seorang preman merengek
karena cinta saja. Makan tuh cinta.”
“Apa salahnya berusaha? Sebeku apapun hati
manusia, jika selalu disentuh dengan perasaan, pasti akan cari juga.”
“Tapi kapan Gilang? Kapan?”
“Gue gak tahu, mungkin Tuhan Cuma yang
tahu.”
“Hanya berdoa jalan terakhir Bro,” ucap
Bintang sambil memegang pundakku.
Aku hanya bisa menahan air mata ini untuk
tak menetes. Butuh perjuangan yang sangat berat dipikul untuk kembali bisa
mendapat keceriaan itu.
Cinta memang gila dan
bisa membuat kita lupa daratan
****
Di pepohonan yang masih rindang dengan
embun yang masih segar, terdengar kicauan burung yang sangat merdu. Jika
burungnya mengerti not-not dan nada-nada yang segala macam itu, pasti akan bisa
dibawa ke ajang festival tarik suara dan bisa menjadi lawan berat manusia yang
memiliki suara merdu. Tapi suara merdu burung itu tak semerdu suasana di
hatiku.
Meski di ufuk timur sudah terbit mentari
pagi yang menampakkan kilau cahayanya yang keemasan menembus jendela kamarku
yang sudah terlihat kusam dan semua itu tak lagi bisa kuhiraukan. Inikah
namanya penyakit cinta stadium akut. Apa yang harus kulakukan, apakah aku harus
melankonis mengakhiri sebuah hidup yang paling kelam ini sebelum ditinggal
namanya Cinta, sang pujaan hati.
Aku hanya termenung di bawah mentari pagi
yang masih berusaha payah terbit mengutarakan cahayanya yang tak akan pernah
habis jika tak diambil sang Empunya. Gemersik daun-daun berguguran dari
batangnya dan pucuk-pucuknya habis dimakan ulat green tea J. Dan hal
yang kulakukan untuk hari ini ialah mencoba tersenyum dengan doa yang
kupanjatkan.
****
Pertama aku harus bisa mengambil hati
Cinta. Aku harus bisa bermain gitar sambil bernyanyi seperti sering dilakukan
cowok bule itu kepada Cinta. Aku juga harus membeli sepeda motor yang terlihat
modis dan jantan untuk membawa Cinta kemana saja kami melabuhkan cinta yang
akan kami padu bersama. Dan sekarang aku harus menjual semua yang kupunya.
Aku memiliki sepeda yang masih dapat
dikatan baru untuk versi enam bulan yang lalu. Sepeda ini masih setengah tahun
menemaniku berjalan di jalan yang sangat jauh ditempuh memakan banyak peluh
keringat. Aku juga harus rela tak lagi menunggang sepeda kesayanganku ini, aku
harus berjalan bersama kakiku yang masih bisa dibilang kokoh dan tegar
menghadapi banyak cobaan. Dan aku yakin bisa.
Aku juga memiliki surat rumah untuk
menggadaikan rumahku satu-satunya di dunia yang fana ini. Soalnya harga sepeda
motor yang jantan itu sangat mahal. Aku harus menjual semua harta milikku,
kecuali yang menempel pada badanku, itupun hanya baju sepasang. Itu lah cinta,
cinta butuh pengorbanan. Semoga saja berhasil.
Aku juga punya ide untuk berjalan kaki
menyusuri perempatan jalan di tengah lampu lalu lintas untuk merenggut gitar
jalanan milik anak jalanan. Aku juga tidak bisa menahan nafsuku untuk
menguatkan bahwa cintaku pada Cinta sangatlah besar adanya. Aku sudah mempunya
ide yang bisa dibilang gila, karena aku seorang cowok yang gila.
Biasanya cowok gila sangat cocok dengan
cewek judes. Karena itu merupakan kombinasi antara plinplan dan melankonis yang
dipadu dalam bahasa alam untuk memudarkan apa artinya cinta sesungguhnya. Aku
tak mengerti apa bahasa yang keluar dari aura tubuhku dan aku tak pahan kenapa
aku bisa melakukan semua bahasa yang kugerakkan melalui jari jari kecilku ini.
Di sebuah toko
Aku tiba di sebuah emperen toko dengan
degupan jantung yang tak karuan. Aku langsung mengutarakan apa yang ada dalam
isi otakku.
“Cang aku mau menjual handphone.” Ucapku
lirih dengan nada memelas.
“Haiya, ho mau jual ya. Gue tawar enam
ratus rebu,” jawab ngkong cina pemilik toko itu.
“Tujuh ratuslah Cang, butuh banget duit
gue. Ini masih bagus dan terawat kok, meski udah second”
“Loe berani tawar, langsung angkat kaki.”
“Oke-oke deal cang,”
“Enam ratus rebu,” tanganku tak rela
menyodorkan handphone kesayanganku kepadanya.
“Terimakasih,”
Di kantor pegadaian
Dengan sengaja aku menjual terakhir
sepedaku, karena aku tak ingin berjalan lebih jauh menuju rumahku.
“Selamat siang Pak.” Sapaku dengan sangat
santun.
“Siang.” Jawab penajaga yang bertugas saat
itu dengan cuek amat.
“Saya mau meminjam uang 50 juta Pak.”
“Dengan jaminan?”
“Surat tanah Pak.” Sembari memberi surat
tanah yang dari tadi kugenggam.
“Hah. 50 juta ? dengan luas tanah 6x4
meter. Hanya bisa 20 juta.”
“Gak bisa tambah lagi Pak?”
“Sudah harga mati.”
“Baiklah Pak.”
Dengan uang dua puluh juta enam ratus ribu
aku melangkahkan kakiku menuju jalur selanjutnya. Ternyata sangat letih juga
berjalan seharian penuh tanpa istrahat. Dari bangun pagi hingga sekarang aku
belum mengisi sedikit pun perutku yang sejengkal ini. Padahal panas matahari
sudah sangat menyengat sehingga peluh keringatku bercucuran tak karuan. Aku
menghentikan perjalanan sejenak ke warung tegal untuk mengisi tenagaku.
Aku memarkirkan sepedaku di lapangan parkir
yang agak luas itu. Aku masuk ke dalam warung tersebut, dan sedikit udara adem
menjelajahi sekujur tubuhku dengan godaan sensasi dingin keringnya. Aku memesan
nasi campur dengan lauk tahu tempe dan telur goreng ceplok. Aku juga tidak lupa
memesan jus jeruk, supaya aku selalu mengingat momen dengan pujaan hatiku,
Cinta, mbak judes terkasihku.
Memang aku juga tak tahu aku kenapa begini.
Pantas saja aku disebut cowok gila. Biarin saja, gila-gila gini yang penting
ada usaha dan niat. Dimana ada niat dan usaha di situ terdapat jalan yang tak
akan pernah kita dapat. Tapi mungkin yang kulakukan ini tidak menghasilkan
apa-apa. Namanya juga sudah cinta, taik kambing rasanya coklat.
“Silahkan Bang.” Sauara kemayu dari seorang
pelayan mengacaukan pikiranku yang ngelantur.
“Terima kasih Mbak.” Jawabku dengan sigap.
Aku memerhatikan isi piring yang ada
dihadapanku. Perutku mulai berbunyi, sepertinya cacing-cacing di dalam tubuhku
sudah demo. Bukan demo untuk kenaikan BBM, tetapi kekurangan bahan bakar untuk
membakar semua yang ada dalam tubuhku ini.
Secara perlahan, butiran-butiran nasi yang
kian penuh, secara merambat berkurang akibat kerja sama antara mulut dan
perutku menguyah secara kompak. Aku meneguk beberapa tegukan air putih yang
membasahi kerongkonganku. Tapi, seperkiandetik kemudian, aku mendecak dan
terbatuk-batuk. Aku melihat suatu yang aneh pada layar televisi.
Aku melihat berita yang melontarkan bahwa
kijang merah dengan nomor polisi N1N4 telah mengalami kecelakaan yang sangat
tragis. Pengemudi seorang wanita yang masih muda mengalami luka parah dan
kritis. Aku segera berlari ke tempat kejadian itu, tanpa membayar yang telah
kupesan. Aku yakin itu adalah Cinta, dia kecelakaan, aku tak percaya.
Aku tiba di jalan raya dengan nafas
terengah-engah. Aku melihat sekujur tubuh Cinta penuh lara dan darah yang
sangat seram. Semua orang yang ada di sini tidak membantu, malah mengambil
kamera. Dasar manusia tak berprikeadilan. Aku benci dengan mereka yang
mempertontonkan nyawa manusia yang hampir melayang. Nyaris saja.
Aku menggendong tubuh Cinta ke taxi dengan
sigap untuk membawa sosok tubuh Cinta ke rumah sakit terdekat. Aku sangat
takut. Aku memegang tangannya yang sangat halus itu dan berdoa dalam hati
semoga ia selamat.
“Kenapa ini terjadi ya Tuhan?” keluhku
dalam batin.
Aku terus menggendong tubuh yang penuh luka
dan darah itu ke ruang IGD. Para suster dan dokter dengan cepat menangani yang
menimpa Cinta. Aku tidak diperbolehkan masuk ke dalam ruangan yang sangat putih
itu. Aku harus menunggu dengan sabar berjam-jam.
****
Sekian lama aku menunggu dengan harapan
yang setengah kosong. Aku mondar-mandir. Aku sudah gila. Aku lebih gila jika
aku kehilangan ia selamanya. Aku menunggu. Menunggu. Seandanginya aku bisa
menggantikan posisinya, dia pasti tak akan merasakan sepahit ini.
Pintu ruangan itu terbuka dengan secara
perlahan, seorang dokter dengan steteskop yang tergantung di lehernya dengan
sedikit wajah murung mendapatkan aku yang sedang menunggu tanpa pasti.
“Bagaimana Dok?” aku tak sabaran mendengar
bagaimana kabarnya.
“Apa kamu kerabat pasien?”
“Iya Dok, saya kerabatnya. Bagaimana Dok?”
“Nyawanya terselamatkan,”
“Syukur,” aku menghembuskan napas panjang
dan lega juga akhirnya.
“Tapi, dia buta selamanya,”
“Apa?”
“Iya, dia buta selamanya. Kedua matanya
tertusuk benda tajam dan menyebabkan aliran darah membuat kedua bola matanya
rusak total. Tapi dia bisa melihat, jika ada manusia yang berhati baik
mendonorkan kedua bola matanya sekaligus nyawanya juga.”
“Saya Dok, saya bisa, saya bisa Dok. Ayolah
Dok, jangan bingung, aku ingin dia selamat. Jangan hiraukan saya,”
“Apa kamu sudah memikirkannya
matang-matang?”
“Iya,” ucapku sedih.
“Jangan terlalu gegabah anak muda, hidupmu
masih panjang.”
“Tapi dia sangat berarti bagiku Dok.”
“Baiklah jika itu maumu, akan kuturuti.
Kalau boleh secepatnya, besok pagi bagaimana?”
“Saya siap Dok”
DEMI CINTA
**********
Sebelum melakukan operasi donor mata, aku
menyempatkan diri untuk berkunjung ke ruang inap Cinta. Aku memegang tangannya.
Aku jadi teringat, aku cowok yang pertama kali yang berani nyentuh tangannya.
Kan aku gilak, wajar saja. Aku mencoba memegang kepalanya yang dipenuhi perban
dan aku menyanyikan lagu Celine Dion – Tell Her. Itu lagu terakhir yang
berhasil kunyanyikan tanda bahwa aku rela pergi dan biarlah lirik lagu ini
menyampaikan isi hatiku padanya. Untuk terakhir kalinya aku mencium keningnya.
Pertama dan terakhir. Aku pergi dan mengucapkan selamat tinggal.
******
“Saya siap Dok” ujarku
“Semoga berhasil dengan rencana kita ya
Nak,”
“Iya Dok, Amin.”
******
Operasi pendonoran mata pun sukses besar.
Kesehatan Cinta juga lama kelamaan semakin pulih dan membaik. Saat Cinta sadar,
ia merasakan aneh pada kedua matanya. Ia menggunakan mata yang asing dan dia langsung
bertanya pada dokter.
“Apa yang terjadi Dok? Saya dimana?”
“Kamu sudah siuman dari kecelakaan maut
yang menyebabkan kedua matamu buta selamanya. Tapi kamu tenang saja, ada anak
muda bernama Gilang menyumbangkan kedua matanya kepadamu Nak. Dia mungkin
sangat mencintaimu, sampai-sampai rela mengorbankan kedua matanya dan nyawa
satu-satunya. Dan ia menitipkan ini padamu Nak,” kata dokter itu sambil
menyodorkan surat putih dari pemberianku.
“Terima kasih dok,”
Cinta pun membuka lipata kertas yang putih
itu dengan perlahan. Dengan doa dalam hati ia berhasil membaca tulisan demi
tulisan sang pendekar hatinya dengan mata yang sangat suci itu.
To : Cinta
Selama aku hidup di dunia
ini, aku tak pernah merasakan sesemangat hidup setelah mengenalmu. Hari-hariku
semakin berkembang jauh lebih baik dari sebelumnya. Hari berganti hari, rasa
cinta tumbuh pada diriku dan aku belum berani mengutarakannya, karena aku tak
pantas dari segi ekonomi buat kamu. Tapi, aku tidak menghiraukan itu, aku
mencoba menjadi orang yang sukses kelak dengan membawa engkau sebagai cinta
terakhirku.
Tapi suatu hari
semangatku sangat turun drastis, ketika aku melihat engkau sudah bersama dia.
Aku mencoba melakukan segala cara dan berdoa tiada henti-hentinya. Dengan
bantuan doa yang dikabulkan, aku diberi pilihan. Aku diberi pilihan untuk
mencintaimu dengan setulus hati lewat pengorbanan. Aku mengorbankan nyawaku dan
kedua mataku, agar kau kelak selalu mengigatku.
Sebelum aku berangkat aku
ingin lega saja, aku sudah memegang tanganmu lagi dan mencium keningmu. Kuharap
engkau tidak marah dan aku menyandung sebuah lagu, bahwa aku sangat mencintaimu
kapan pun dan dimana pun. Setelah aku lega aku sudah mengorbankan semua dan
berharap semua baik baik saja. Aku tetap mencintaimu, meski engkau sudah beda
dunia denganku.
Salam
Gilang
Tetesan air mata membasahi kertas putih
yang sedang digenggamg Cinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar