Kamis, 03 Maret 2016

GILANG (karya lawas)

Benturan angin malam merebak keheningan yang menemani sang rembulan dan bintang-bintang yang menghiasi langit malam. Cahaya bulan dan kemilau bintang-bintang merindangi isi muka bumi. Burung hantu dan kelelawar malam mencari nafkah buat kebutuhan perutnya yang sudah tak sabaran untuk diisi. Suara-suara yang mengerumuni udara di hamparan tengah malam menemani sosokku yang rapuh sedang termenung memandang langit yang kelam.
Ada sesuatu yang mengganjal hatiku. Hati ini selalu terusik oleh pengalaman yang sangat tak dapat masuk oleh akalku membuat aku tidak bisa tidur semalaman. Aku duduk termangu memandang langit yang kelam, serasa berada di hamparan padang langit yang menyelimuti hati yang gersang.
Sebenarnya hatiku diganjal oleh suatu masalah yang masih kabar burung. Kabar itu pun disampaikan lewat pesan singkat teknologi ,SMS, dari Bintang, sahabat dekatku. Pesan singkat itu berisi Cinta, cewek pendekatanku(pdkt), dating dengan anak baru yang mirip orang bule itu. Inilah efek samping memiliki emosi yang berlebihan, terlalu mudah tersinggung.
Aku tak bisa selalu begini dan tak akan pernah bisa begini. Aku coba berdiri dari dudukan yang telah lama kududuki, lalu meninggalkan kamar. Aku keluar rumah dan langsung menunggang sepeda milikku menuju rumah Bintang. Semoga saja dia belum pergi ke alam mimpi. Semakin lama laju sepeda tunggangku semakin cepat menembus angin.
Aku tiba di halaman yang masih alami bertema go green, pohon-pohon dari kecil ke besar, bunga-bunga yang ramai sampai satu-satu menghiasi halaman yang cukup luas ini. Lampu remang-remang menghiasi halaman hijau dan sangat indah tentunya. Lampu bercahaya dari dalam rumah, itu menandakan bahwa pemilik rumah belum pada pergi ke alam mimpi.
Aku menekan bel beberapa kali. Sedetik kemudian, di balik pintu, sudah berdiri sosok Bintang yang mukanya tampak mulai mengantuk.
“Selamat malam Bro, ada gerangan tadi? Ayo masuk dulu!” suaranya mengiringiku masuk ke dalam rumah.
“Belum tidur?” tanyaku singkat.
“Hahaha.. Aneh loe. Kan gue belum molor, berarti belum lah.”
“Iyaiya. Ehm, begini Bro.”
“Apaan sih? Plinplan banget.”
“Emang betul loe gak salah liat, bahwa Cinta, cewek yg gue incar, jalan sama si bule itu?”
“Iyalah, mana mungkin gue salah liat.”
“Pantas saja dia cuek dan mengancam aku untuk putus samanya?”
“Mungkin juga karena bule itu.” Jawabnya acuh.
“Apa gue harus ahli bermain gitar dan nyanyi biar bisa bersaing dengan bule itu?”
“Gue kurang tau Bro, setau gue juga loe harus jadi diri sendiri. Jangan jadi orang lain.”
“Loe tau kan gimana rasanya dan hancurnya perasaan loe, saat loe sedang dekat-dekatnya sama cewek yang loe taksir, eh tiba-tiba, sudah diambil orang?”
“Hahaha.. Loe terlalu melankonis kawan. Loe terlalu kesinetronan. Bukan hanya dia cewek di dunia ini. Bukan hanya dia.”
“Tapi aku merasa nyaman setelah sekian lama aku bisa melupakan Tika, mantan gue itu.”
“Buka mata loe, bukan hanya dia perempuan.” Ucap bintang dengan nada naik.
“Seandainya loe tahu bagaiaman sekarang hati gue yang sudah hancur berkeping-keping ini.”
“Loe terlalu banyak baca novel yang berbau cinta. Jadi loe cinta mati ama si Cinta. Gila loe. Loe cowok tergila gue liat.”
“Terserah loe.” Ucapku sambil menghembuskan nafas keputusasaan.
Kesunyian menyelimuti di antara mereka. Tak ada satu pun yang mengeluarkan suara yang berlaras dengan dinginnya malam itu. Hari semakin larut, udara dingin mulai menurunkan suhunya untuk menyambut pagi yang cerah esok. Langit dan bumi seakan tak pernah berkompromi mengatur suhu yang sangat dingin.
“Jadi, bagaimana keputusan loe?”
“Gue tetap ngejar cinta gue.”
“Gak salah tuh, seorang preman merengek karena cinta saja. Makan tuh cinta.”
“Apa salahnya berusaha? Sebeku apapun hati manusia, jika selalu disentuh dengan perasaan, pasti akan cari juga.”
“Tapi kapan Gilang? Kapan?”
“Gue gak tahu, mungkin Tuhan Cuma yang tahu.”
“Hanya berdoa jalan terakhir Bro,” ucap Bintang sambil memegang pundakku.
Aku hanya bisa menahan air mata ini untuk tak menetes. Butuh perjuangan yang sangat berat dipikul untuk kembali bisa mendapat keceriaan itu.

Cinta memang gila dan bisa membuat kita lupa daratan

****
Di pepohonan yang masih rindang dengan embun yang masih segar, terdengar kicauan burung yang sangat merdu. Jika burungnya mengerti not-not dan nada-nada yang segala macam itu, pasti akan bisa dibawa ke ajang festival tarik suara dan bisa menjadi lawan berat manusia yang memiliki suara merdu. Tapi suara merdu burung itu tak semerdu suasana di hatiku.
Meski di ufuk timur sudah terbit mentari pagi yang menampakkan kilau cahayanya yang keemasan menembus jendela kamarku yang sudah terlihat kusam dan semua itu tak lagi bisa kuhiraukan. Inikah namanya penyakit cinta stadium akut. Apa yang harus kulakukan, apakah aku harus melankonis mengakhiri sebuah hidup yang paling kelam ini sebelum ditinggal namanya Cinta, sang pujaan hati.
Aku hanya termenung di bawah mentari pagi yang masih berusaha payah terbit mengutarakan cahayanya yang tak akan pernah habis jika tak diambil sang Empunya. Gemersik daun-daun berguguran dari batangnya dan pucuk-pucuknya habis dimakan ulat green tea J. Dan hal yang kulakukan untuk hari ini ialah mencoba tersenyum dengan doa yang kupanjatkan.
****
Pertama aku harus bisa mengambil hati Cinta. Aku harus bisa bermain gitar sambil bernyanyi seperti sering dilakukan cowok bule itu kepada Cinta. Aku juga harus membeli sepeda motor yang terlihat modis dan jantan untuk membawa Cinta kemana saja kami melabuhkan cinta yang akan kami padu bersama. Dan sekarang aku harus menjual semua yang kupunya.
Aku memiliki sepeda yang masih dapat dikatan baru untuk versi enam bulan yang lalu. Sepeda ini masih setengah tahun menemaniku berjalan di jalan yang sangat jauh ditempuh memakan banyak peluh keringat. Aku juga harus rela tak lagi menunggang sepeda kesayanganku ini, aku harus berjalan bersama kakiku yang masih bisa dibilang kokoh dan tegar menghadapi banyak cobaan. Dan aku yakin bisa.
Aku juga memiliki surat rumah untuk menggadaikan rumahku satu-satunya di dunia yang fana ini. Soalnya harga sepeda motor yang jantan itu sangat mahal. Aku harus menjual semua harta milikku, kecuali yang menempel pada badanku, itupun hanya baju sepasang. Itu lah cinta, cinta butuh pengorbanan. Semoga saja berhasil.
Aku juga punya ide untuk berjalan kaki menyusuri perempatan jalan di tengah lampu lalu lintas untuk merenggut gitar jalanan milik anak jalanan. Aku juga tidak bisa menahan nafsuku untuk menguatkan bahwa cintaku pada Cinta sangatlah besar adanya. Aku sudah mempunya ide yang bisa dibilang gila, karena aku seorang cowok yang gila.
Biasanya cowok gila sangat cocok dengan cewek judes. Karena itu merupakan kombinasi antara plinplan dan melankonis yang dipadu dalam bahasa alam untuk memudarkan apa artinya cinta sesungguhnya. Aku tak mengerti apa bahasa yang keluar dari aura tubuhku dan aku tak pahan kenapa aku bisa melakukan semua bahasa yang kugerakkan melalui jari jari kecilku ini.


Di sebuah toko
Aku tiba di sebuah emperen toko dengan degupan jantung yang tak karuan. Aku langsung mengutarakan apa yang ada dalam isi otakku.
“Cang aku mau menjual handphone.” Ucapku lirih dengan nada memelas.
“Haiya, ho mau jual ya. Gue tawar enam ratus rebu,” jawab ngkong cina pemilik toko itu.
“Tujuh ratuslah Cang, butuh banget duit gue. Ini masih bagus dan terawat kok, meski udah second
“Loe berani tawar, langsung angkat kaki.”
“Oke-oke deal cang,”
“Enam ratus rebu,” tanganku tak rela menyodorkan handphone kesayanganku kepadanya.
“Terimakasih,”



Di kantor pegadaian
Dengan sengaja aku menjual terakhir sepedaku, karena aku tak ingin berjalan lebih jauh menuju rumahku.
“Selamat siang Pak.” Sapaku dengan sangat santun.
“Siang.” Jawab penajaga yang bertugas saat itu dengan cuek amat.
“Saya mau meminjam uang 50 juta Pak.”
“Dengan jaminan?”
“Surat tanah Pak.” Sembari memberi surat tanah yang dari tadi kugenggam.
“Hah. 50 juta ? dengan luas tanah 6x4 meter. Hanya bisa 20 juta.”
“Gak bisa tambah lagi Pak?”
“Sudah harga mati.”
“Baiklah Pak.”
Dengan uang dua puluh juta enam ratus ribu aku melangkahkan kakiku menuju jalur selanjutnya. Ternyata sangat letih juga berjalan seharian penuh tanpa istrahat. Dari bangun pagi hingga sekarang aku belum mengisi sedikit pun perutku yang sejengkal ini. Padahal panas matahari sudah sangat menyengat sehingga peluh keringatku bercucuran tak karuan. Aku menghentikan perjalanan sejenak ke warung tegal untuk mengisi tenagaku.
Aku memarkirkan sepedaku di lapangan parkir yang agak luas itu. Aku masuk ke dalam warung tersebut, dan sedikit udara adem menjelajahi sekujur tubuhku dengan godaan sensasi dingin keringnya. Aku memesan nasi campur dengan lauk tahu tempe dan telur goreng ceplok. Aku juga tidak lupa memesan jus jeruk, supaya aku selalu mengingat momen dengan pujaan hatiku, Cinta, mbak judes terkasihku.
Memang aku juga tak tahu aku kenapa begini. Pantas saja aku disebut cowok gila. Biarin saja, gila-gila gini yang penting ada usaha dan niat. Dimana ada niat dan usaha di situ terdapat jalan yang tak akan pernah kita dapat. Tapi mungkin yang kulakukan ini tidak menghasilkan apa-apa. Namanya juga sudah cinta, taik kambing rasanya coklat.
“Silahkan Bang.” Sauara kemayu dari seorang pelayan mengacaukan pikiranku yang ngelantur.
“Terima kasih Mbak.” Jawabku dengan sigap.
Aku memerhatikan isi piring yang ada dihadapanku. Perutku mulai berbunyi, sepertinya cacing-cacing di dalam tubuhku sudah demo. Bukan demo untuk kenaikan BBM, tetapi kekurangan bahan bakar untuk membakar semua yang ada dalam tubuhku ini.
Secara perlahan, butiran-butiran nasi yang kian penuh, secara merambat berkurang akibat kerja sama antara mulut dan perutku menguyah secara kompak. Aku meneguk beberapa tegukan air putih yang membasahi kerongkonganku. Tapi, seperkiandetik kemudian, aku mendecak dan terbatuk-batuk. Aku melihat suatu yang aneh pada layar televisi.
Aku melihat berita yang melontarkan bahwa kijang merah dengan nomor polisi N1N4 telah mengalami kecelakaan yang sangat tragis. Pengemudi seorang wanita yang masih muda mengalami luka parah dan kritis. Aku segera berlari ke tempat kejadian itu, tanpa membayar yang telah kupesan. Aku yakin itu adalah Cinta, dia kecelakaan, aku tak percaya.
Aku tiba di jalan raya dengan nafas terengah-engah. Aku melihat sekujur tubuh Cinta penuh lara dan darah yang sangat seram. Semua orang yang ada di sini tidak membantu, malah mengambil kamera. Dasar manusia tak berprikeadilan. Aku benci dengan mereka yang mempertontonkan nyawa manusia yang hampir melayang. Nyaris saja.
Aku menggendong tubuh Cinta ke taxi dengan sigap untuk membawa sosok tubuh Cinta ke rumah sakit terdekat. Aku sangat takut. Aku memegang tangannya yang sangat halus itu dan berdoa dalam hati semoga ia selamat.
“Kenapa ini terjadi ya Tuhan?” keluhku dalam batin.
Aku terus menggendong tubuh yang penuh luka dan darah itu ke ruang IGD. Para suster dan dokter dengan cepat menangani yang menimpa Cinta. Aku tidak diperbolehkan masuk ke dalam ruangan yang sangat putih itu. Aku harus menunggu dengan sabar berjam-jam.
****
Sekian lama aku menunggu dengan harapan yang setengah kosong. Aku mondar-mandir. Aku sudah gila. Aku lebih gila jika aku kehilangan ia selamanya. Aku menunggu. Menunggu. Seandanginya aku bisa menggantikan posisinya, dia pasti tak akan merasakan sepahit ini.
Pintu ruangan itu terbuka dengan secara perlahan, seorang dokter dengan steteskop yang tergantung di lehernya dengan sedikit wajah murung mendapatkan aku yang sedang menunggu tanpa pasti.
“Bagaimana Dok?” aku tak sabaran mendengar bagaimana kabarnya.
“Apa kamu kerabat pasien?”
“Iya Dok, saya kerabatnya. Bagaimana Dok?”
“Nyawanya terselamatkan,”
“Syukur,” aku menghembuskan napas panjang dan lega juga akhirnya.
“Tapi, dia buta selamanya,”
“Apa?”
“Iya, dia buta selamanya. Kedua matanya tertusuk benda tajam dan menyebabkan aliran darah membuat kedua bola matanya rusak total. Tapi dia bisa melihat, jika ada manusia yang berhati baik mendonorkan kedua bola matanya sekaligus nyawanya juga.”
“Saya Dok, saya bisa, saya bisa Dok. Ayolah Dok, jangan bingung, aku ingin dia selamat. Jangan hiraukan saya,”
“Apa kamu sudah memikirkannya matang-matang?”
“Iya,” ucapku sedih.
“Jangan terlalu gegabah anak muda, hidupmu masih panjang.”
“Tapi dia sangat berarti bagiku Dok.”
“Baiklah jika itu maumu, akan kuturuti. Kalau boleh secepatnya, besok pagi bagaimana?”
“Saya siap Dok”
DEMI CINTA
**********
Sebelum melakukan operasi donor mata, aku menyempatkan diri untuk berkunjung ke ruang inap Cinta. Aku memegang tangannya. Aku jadi teringat, aku cowok yang pertama kali yang berani nyentuh tangannya. Kan aku gilak, wajar saja. Aku mencoba memegang kepalanya yang dipenuhi perban dan aku menyanyikan lagu Celine Dion – Tell Her. Itu lagu terakhir yang berhasil kunyanyikan tanda bahwa aku rela pergi dan biarlah lirik lagu ini menyampaikan isi hatiku padanya. Untuk terakhir kalinya aku mencium keningnya. Pertama dan terakhir. Aku pergi dan mengucapkan selamat tinggal.
******
“Saya siap Dok” ujarku
“Semoga berhasil dengan rencana kita ya Nak,”
“Iya Dok, Amin.”

******
Operasi pendonoran mata pun sukses besar. Kesehatan Cinta juga lama kelamaan semakin pulih dan membaik. Saat Cinta sadar, ia merasakan aneh pada kedua matanya. Ia menggunakan mata yang asing dan dia langsung bertanya pada dokter.
“Apa yang terjadi Dok? Saya dimana?”
“Kamu sudah siuman dari kecelakaan maut yang menyebabkan kedua matamu buta selamanya. Tapi kamu tenang saja, ada anak muda bernama Gilang menyumbangkan kedua matanya kepadamu Nak. Dia mungkin sangat mencintaimu, sampai-sampai rela mengorbankan kedua matanya dan nyawa satu-satunya. Dan ia menitipkan ini padamu Nak,” kata dokter itu sambil menyodorkan surat putih dari pemberianku.
“Terima kasih dok,”
Cinta pun membuka lipata kertas yang putih itu dengan perlahan. Dengan doa dalam hati ia berhasil membaca tulisan demi tulisan sang pendekar hatinya dengan mata yang sangat suci itu.

To : Cinta
Selama aku hidup di dunia ini, aku tak pernah merasakan sesemangat hidup setelah mengenalmu. Hari-hariku semakin berkembang jauh lebih baik dari sebelumnya. Hari berganti hari, rasa cinta tumbuh pada diriku dan aku belum berani mengutarakannya, karena aku tak pantas dari segi ekonomi buat kamu. Tapi, aku tidak menghiraukan itu, aku mencoba menjadi orang yang sukses kelak dengan membawa engkau sebagai cinta terakhirku.
Tapi suatu hari semangatku sangat turun drastis, ketika aku melihat engkau sudah bersama dia. Aku mencoba melakukan segala cara dan berdoa tiada henti-hentinya. Dengan bantuan doa yang dikabulkan, aku diberi pilihan. Aku diberi pilihan untuk mencintaimu dengan setulus hati lewat pengorbanan. Aku mengorbankan nyawaku dan kedua mataku, agar kau kelak selalu mengigatku.
Sebelum aku berangkat aku ingin lega saja, aku sudah memegang tanganmu lagi dan mencium keningmu. Kuharap engkau tidak marah dan aku menyandung sebuah lagu, bahwa aku sangat mencintaimu kapan pun dan dimana pun. Setelah aku lega aku sudah mengorbankan semua dan berharap semua baik baik saja. Aku tetap mencintaimu, meski engkau sudah beda dunia denganku.
Salam
Gilang
Tetesan air mata membasahi kertas putih yang sedang digenggamg Cinta.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar