Kamis, 03 Maret 2016

AKU KAU

                Dia tidak berubah atau ketetapan melekat erat padanya. Lelaki itu sedang duduk menunggu. Tepatnya menunggu kedatanganku. Namanya Aldo. Dia tidak bergerak dari tempat duduknya. Kaos hitam yang kusut yang membalut tubuhnya menemani sepinya. 
                Rambutnya panjang seperti gitaris ternama dunia, Slash sang gitaris Gun n Roses, menjadi ciri khasnya. Tidak berubah. Esensinya sebagai dua sosok yang berubah ternyata tidak menyisakan ruang. Bagian lengan hingga ujungnya telanjang merupakan kebiasaan. Kebiasaan memamerkan lukisan indah di tubuhnya.
                Gurita yang mengeluarkan tinta di dadanya sebagai pusat utama di lukisan tubuh. Sehingga mengalir salib-salib yang menggantung terlukis di punggungnya. Lukisannya tidak indah tanpa guratan nama ibu yang melahirkannya ke dunia ini. 
                Urat-urat yang timbul juga tersirat menjadi lukisan alami sehingga sekujur tubuh menjadi kanvas bagi pencinta lukisan di tubuh manusia. Apakah ibunya tidak melarang? Ibunya pernah melarang, tetapi ketika mengetahui terlukis guratan nama ibunya, ibunya hanya bisa tersenyum dan menyelipkan sepucuk doa.
Aldo elwdyan. Nama tersebut pemberi kakeknya. Kakeknya seorang musisi terkenal pada masanya. Buah tidak jauh jatuh dari batangnya. Wajar saja darah Aldo mengalir darah musisi. Setiap detik merupakan sepenggal tangga tempat ia duduk. Setiap jam merupakan sepotong waktu untuk memetik. Setiap hari merupakan pintalan senar yang berbunyi. Setiap saat bisa jadi tempatnya berhubungan intim dengan gitar kesayangannya.
Aku adalah kekasihnya yang nomor dua, karena kekasihnya yang pertama yakni gitar kesayangannya. Malam ini aku ingin bertemu dengannya. Rindu? Bukan. Hanya ingin melihatnya saja.
Dia mulai menyadari bahwa aku menyadari kehadirannya dan dia juga tersadar ketika aku tersadar melihat kesadarannya. Dia menyiratkan secarik senyum di wajahnya yang kusut dan aku melambaikan tanganku dan menuju ke arahnya.
*****
Ternyata dia tidak sadar bahwa aku melihat sosoknya di sela-sela aku menikmati dinginnya malam ini. Tidak ada yang berubah padanya. Masih saja seperti dulu. Rambut nya yang tergurai memeluk bahunya. Celana sobek yang kerapkali membalut separuh tubuhnya. Terlebih kaos yang selalu ditemani jaket panjangnya.Namun dia adalah perempuan yang aku cinta.
Terkadang aku merasa aneh melihat mahluk satu ini. Si kutuk buku. Tetapi aneh, kutu yang satu ini tidak terserang cacat pada matanya akibat baca dan baca. Mungkin buku yang ia baca bisa menjadi perpusatakaan keliling di kampung. Wanita yang tak pernah memperhatikan penampilan itu tetap saja tidak menyadari kesadaranku yang sedang menyelidik ketidaksadarannya.
Namanya Sonia. Di garis keturunannya tidak ada yang berbau seni dan sastra. Namun, garis ilmiah dan sains lah yang ada. Namanya saja perempuan aneh. Lari dari jalurnya.
Mungkin akibat teater yang ia geluti membuat penampilan bukanlah suatu hal yang penting. Buku-buku yang ia tulis juga kerap tidak menarik perhatiannya untuk mengubah penampilannya.
Namun, mungkin ini salah satu pemikat yang memikatku senang bersamanya. Hubungan yang kami jalin pun kerap berjalan dengan baik. Mungkin saja aku esensi keberuntungan memisahkan jarak antara kami. Kegemarannku membawaku ke panggung impianku sehingga aku terpaksa meninggalkannya sebab ia masih mengais sarjananya.
Sengaja aku memesannya agar bertemu di titik ia sekarang berdiri memandang kosong depan tersebut. Agar aku bisa mengagguminya sejenak dari kejauhan ini. Ah sudahlah. Sudah lumayan lama tercipta ketidaksadaran di antara kami.
 Aku mulai memandang dan mulai tersenyum kepadanya mengisyaratkan agar dia mendekat. Lalu dia melambai pelan ke arahku duduk. Dia mulai mengayunkan langkah hingga mendekat dan duduk tepat di depanku. Lampion menjadi penerang tepat di atas kepala kami berdua.
*****
Sosok sudah tepat berada di hadapanku. Rambutnya yang membuat tampak dia seram namun tidak bagiku. Lukisan-lukisa di tangan-tangannya seakan-akan menari-nari dan melompat-lompat menyambut kedatangannku. Aku melihat jari-jarinya yang agak kusut akibat latihan mempersiapkan konser kemarin mungkin.
Akhirnya ia dapat berdiri tegak di panggung impinya. Dan aku sepertinya mulai tidak mungkin lagi berada di sampingnya. Karena ia sudah punya nama yang tidak seperti dulu. Dia mulai memandang mataku yang keliling luas ruang menelidik tubuhnya. Aku mulai terpaku. Aku harus mengutarakan ini.
Tapi mulai dari mana? Darimana sehingga perjalanan ini bisa aku jalani lagi. Orang sudah berbusa-busa memotivasiku agar berani mengutarakan ini. Apakah aku mengatakan bahwa aku tidak ingin jauh-jauh darimu karena dia sudah menggenggam mimpinya? Atau apakah aku harus mengatakan bahwa aku harus mundur sebab ketika dia mengenggam mimpinya dia tidak bisa melirik aku sedikitpun setelah dia sudah jauh pergi bersama mimpinya.
Aku harus katakan sesuatu. Aku mulai mendongakkan daguku dan mulai menggetarkan bibirku agar lidah tidak kelu.
“Aku ingin katakan sesuatu,” ternyata mulut kami serentak mengatakan hal yang sama. Lalu dia perlahan memegang tanganku.
*****
Sosok sudah tepat berada di hadapanku. Aku ingin memeluk dingin tubuhnya. Namun ada yang mengusik pikirannya. Mungkin mengusik pikiranku juga. Tapi seharusnya aku merasa senang sudah berada di dekatnya. Dia seakan ingin mengatakan kata meracik menjadi sebuah kalimat.
Tetapi sebelum dia mengutarakannya aku juga harus mendahuluinya dengan terpaksa. Melihat kesibukanku belakngan ini aku sudah mengusi hatinya. Mungkin ini adalah pilihan berat. Pilihan impian atau pilihan dia. Sepertinya aku harus menyuruh dia berhenti sarjananya dan mengikuti aku kemanapun aku pergi atau haruskah aku menghentikan mimpiku yang sudah lama aku idamkan?
Mungkin, hidup adalah pilihan. Dan sekiranya bukan pilihan lah yang menentukan suatu hidup. Namun hiduplah yang seharusnya menentukan suatu pilihan,bukan?
Sepertinya dia sudah mendongakkan dagunya dan mulai menggetarkan bibirnya untuk bicaranya. Tidak. Aku juga ingin mengatakan sebelum dia katakan sesuatu.
“Aku ingin katakan sesuatu,” ternyata mulut kami serentak mengatakan hal yang sama. Lalu aku memegang tangannya secara lembut.
“Katakanlah sesuatu,” ujarku sambil membiarkan dia mengeluarkan sepatah kata.
*****
“Aku takut,” ucapku terdengar berbisik.
“Aku takut kau tidak dapat lagi menggemgam mimpimu berada di panggung yang telah lama kau mimpikan. Mungkin aku sebuah penghalang. Tapi aku takut. Mungkin sekarang kita tidak berada di pondasi yang sama. Tapi aku rela kau beralih ke pondasi yang sana.” Mulutku bergetar mengatakan kalimat demi kalimat. Diiringi dengan aliran air mata yang membasahi pipiku yang kusam. Tangannya mulai mengusap ujung rambutku. Tapi itu membuatku semakin ingin menangis sekencang-kencangny.
*****
                Dia mulai mendongak dan menggetarkan mulutnya. Aku mendengar kata-kata bahwa ia takut. Lalu kalimat selanjutnya menusuk sistem otak kiriku. Aku mulai terdiam. Seluruh perederan darahku berhenti seketika. Sehingga jantungku mulai lupa cara memompa darahku. Aku mulai mengusap ujung kepalanya dan mulai mendekat ke sampingnya.

                “Aku lebih takut kehilanganmu. Sudahlah aku tak ingin kehilanganmu,” perlahan aku sirapkan pelukan untuk meredam tangisnya yang semakin kencang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar