Dia
tidak berubah atau ketetapan melekat erat padanya. Lelaki itu sedang duduk menunggu. Tepatnya menunggu kedatanganku. Namanya Aldo. Dia tidak
bergerak dari tempat duduknya. Kaos hitam yang kusut yang membalut tubuhnya menemani sepinya.
Rambutnya panjang seperti gitaris ternama dunia, Slash sang gitaris Gun n Roses, menjadi ciri khasnya. Tidak berubah. Esensinya sebagai dua sosok yang berubah ternyata tidak menyisakan ruang. Bagian lengan hingga ujungnya telanjang merupakan kebiasaan. Kebiasaan memamerkan lukisan indah di tubuhnya.
Rambutnya panjang seperti gitaris ternama dunia, Slash sang gitaris Gun n Roses, menjadi ciri khasnya. Tidak berubah. Esensinya sebagai dua sosok yang berubah ternyata tidak menyisakan ruang. Bagian lengan hingga ujungnya telanjang merupakan kebiasaan. Kebiasaan memamerkan lukisan indah di tubuhnya.
Gurita
yang mengeluarkan tinta di dadanya sebagai pusat utama di lukisan tubuh.
Sehingga mengalir salib-salib yang menggantung terlukis di punggungnya.
Lukisannya tidak indah tanpa guratan nama ibu yang melahirkannya ke dunia ini.
Urat-urat yang timbul juga tersirat menjadi lukisan alami sehingga sekujur tubuh menjadi kanvas bagi pencinta lukisan di tubuh manusia. Apakah ibunya tidak melarang? Ibunya pernah melarang, tetapi ketika mengetahui terlukis guratan nama ibunya, ibunya hanya bisa tersenyum dan menyelipkan sepucuk doa.
Urat-urat yang timbul juga tersirat menjadi lukisan alami sehingga sekujur tubuh menjadi kanvas bagi pencinta lukisan di tubuh manusia. Apakah ibunya tidak melarang? Ibunya pernah melarang, tetapi ketika mengetahui terlukis guratan nama ibunya, ibunya hanya bisa tersenyum dan menyelipkan sepucuk doa.
Aldo elwdyan. Nama tersebut
pemberi kakeknya. Kakeknya seorang musisi terkenal pada masanya. Buah tidak
jauh jatuh dari batangnya. Wajar saja darah Aldo mengalir darah musisi. Setiap
detik merupakan sepenggal tangga tempat ia duduk. Setiap jam merupakan sepotong
waktu untuk memetik. Setiap hari merupakan pintalan senar yang berbunyi. Setiap
saat bisa jadi tempatnya berhubungan intim dengan gitar kesayangannya.
Aku adalah kekasihnya yang nomor dua, karena kekasihnya yang pertama yakni gitar kesayangannya. Malam ini aku ingin bertemu dengannya. Rindu? Bukan. Hanya ingin melihatnya saja.
Aku adalah kekasihnya yang nomor dua, karena kekasihnya yang pertama yakni gitar kesayangannya. Malam ini aku ingin bertemu dengannya. Rindu? Bukan. Hanya ingin melihatnya saja.
Dia mulai menyadari bahwa aku
menyadari kehadirannya dan dia juga tersadar ketika aku tersadar melihat
kesadarannya. Dia menyiratkan secarik senyum di wajahnya yang kusut dan aku
melambaikan tanganku dan menuju ke arahnya.
*****
Ternyata dia tidak sadar bahwa
aku melihat sosoknya di sela-sela aku menikmati dinginnya malam ini. Tidak ada
yang berubah padanya. Masih saja seperti dulu. Rambut nya yang tergurai memeluk
bahunya. Celana sobek yang kerapkali membalut separuh tubuhnya. Terlebih kaos
yang selalu ditemani jaket panjangnya.Namun dia adalah perempuan yang aku cinta.
Terkadang aku merasa aneh melihat
mahluk satu ini. Si kutuk buku. Tetapi aneh, kutu yang satu ini tidak terserang
cacat pada matanya akibat baca dan baca. Mungkin buku yang ia baca bisa menjadi
perpusatakaan keliling di kampung. Wanita yang tak pernah memperhatikan
penampilan itu tetap saja tidak menyadari kesadaranku yang sedang menyelidik
ketidaksadarannya.
Namanya Sonia. Di garis keturunannya tidak ada yang berbau seni dan sastra. Namun, garis ilmiah dan sains lah yang ada. Namanya saja perempuan aneh. Lari dari jalurnya.
Namanya Sonia. Di garis keturunannya tidak ada yang berbau seni dan sastra. Namun, garis ilmiah dan sains lah yang ada. Namanya saja perempuan aneh. Lari dari jalurnya.
Mungkin akibat teater yang ia
geluti membuat penampilan bukanlah suatu hal yang penting. Buku-buku yang ia
tulis juga kerap tidak menarik perhatiannya untuk mengubah penampilannya.
Namun, mungkin ini salah satu
pemikat yang memikatku senang bersamanya. Hubungan yang kami jalin pun kerap
berjalan dengan baik. Mungkin saja aku esensi keberuntungan memisahkan jarak
antara kami. Kegemarannku membawaku ke panggung impianku sehingga aku terpaksa
meninggalkannya sebab ia masih mengais sarjananya.
Sengaja aku memesannya agar
bertemu di titik ia sekarang berdiri memandang kosong depan tersebut. Agar aku
bisa mengagguminya sejenak dari kejauhan ini. Ah sudahlah. Sudah lumayan lama
tercipta ketidaksadaran di antara kami.
Aku mulai memandang dan mulai tersenyum
kepadanya mengisyaratkan agar dia mendekat. Lalu dia melambai pelan ke arahku
duduk. Dia mulai mengayunkan langkah hingga mendekat dan duduk tepat di
depanku. Lampion menjadi penerang tepat di atas kepala kami berdua.
*****
Sosok sudah tepat berada di
hadapanku. Rambutnya yang membuat tampak dia seram namun tidak bagiku.
Lukisan-lukisa di tangan-tangannya seakan-akan menari-nari dan melompat-lompat
menyambut kedatangannku. Aku melihat jari-jarinya yang agak kusut akibat
latihan mempersiapkan konser kemarin mungkin.
Akhirnya ia dapat berdiri tegak
di panggung impinya. Dan aku sepertinya mulai tidak mungkin lagi berada di
sampingnya. Karena ia sudah punya nama yang tidak seperti dulu. Dia mulai
memandang mataku yang keliling luas ruang menelidik tubuhnya. Aku mulai
terpaku. Aku harus mengutarakan ini.
Tapi mulai dari mana? Darimana
sehingga perjalanan ini bisa aku jalani lagi. Orang sudah berbusa-busa
memotivasiku agar berani mengutarakan ini. Apakah aku mengatakan bahwa aku
tidak ingin jauh-jauh darimu karena dia sudah menggenggam mimpinya? Atau apakah
aku harus mengatakan bahwa aku harus mundur sebab ketika dia mengenggam
mimpinya dia tidak bisa melirik aku sedikitpun setelah dia sudah jauh pergi
bersama mimpinya.
Aku harus katakan sesuatu. Aku
mulai mendongakkan daguku dan mulai menggetarkan bibirku agar lidah tidak kelu.
“Aku ingin katakan sesuatu,”
ternyata mulut kami serentak mengatakan hal yang sama. Lalu dia perlahan
memegang tanganku.
*****
Sosok sudah tepat berada di
hadapanku. Aku ingin memeluk dingin tubuhnya. Namun ada yang mengusik
pikirannya. Mungkin mengusik pikiranku juga. Tapi seharusnya aku merasa senang
sudah berada di dekatnya. Dia seakan ingin mengatakan kata meracik menjadi
sebuah kalimat.
Tetapi sebelum dia
mengutarakannya aku juga harus mendahuluinya dengan terpaksa. Melihat
kesibukanku belakngan ini aku sudah mengusi hatinya. Mungkin ini adalah pilihan
berat. Pilihan impian atau pilihan dia. Sepertinya aku harus menyuruh dia
berhenti sarjananya dan mengikuti aku kemanapun aku pergi atau haruskah aku
menghentikan mimpiku yang sudah lama aku idamkan?
Mungkin, hidup adalah pilihan.
Dan sekiranya bukan pilihan lah yang menentukan suatu hidup. Namun hiduplah
yang seharusnya menentukan suatu pilihan,bukan?
Sepertinya dia sudah mendongakkan
dagunya dan mulai menggetarkan bibirnya untuk bicaranya. Tidak. Aku juga ingin
mengatakan sebelum dia katakan sesuatu.
“Aku ingin katakan sesuatu,”
ternyata mulut kami serentak mengatakan hal yang sama. Lalu aku memegang
tangannya secara lembut.
“Katakanlah sesuatu,” ujarku
sambil membiarkan dia mengeluarkan sepatah kata.
*****
“Aku takut,” ucapku terdengar
berbisik.
“Aku takut kau tidak dapat lagi
menggemgam mimpimu berada di panggung yang telah lama kau mimpikan. Mungkin aku
sebuah penghalang. Tapi aku takut. Mungkin sekarang kita tidak berada di
pondasi yang sama. Tapi aku rela kau beralih ke pondasi yang sana.” Mulutku
bergetar mengatakan kalimat demi kalimat. Diiringi dengan aliran air mata yang
membasahi pipiku yang kusam. Tangannya mulai mengusap ujung rambutku. Tapi itu
membuatku semakin ingin menangis sekencang-kencangny.
*****
Dia
mulai mendongak dan menggetarkan mulutnya. Aku mendengar kata-kata bahwa ia
takut. Lalu kalimat selanjutnya menusuk sistem otak kiriku. Aku mulai terdiam.
Seluruh perederan darahku berhenti seketika. Sehingga jantungku mulai lupa cara
memompa darahku. Aku mulai mengusap ujung kepalanya dan mulai mendekat ke
sampingnya.
“Aku
lebih takut kehilanganmu. Sudahlah aku tak ingin kehilanganmu,” perlahan aku
sirapkan pelukan untuk meredam tangisnya yang semakin kencang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar