Rabu, 09 Maret 2016

Antologi Malam

Di ujung malam landai sayap tertegun
Membasahi baju rembulan yang anggun
Angin malam berenang menuju perut bumi
Mengukur dalamnya rahim yang sejengkal

Akal tak pernah tertawa terpingkal-pingkal
Melihat mata terbelalak menerawang awang
Agar senja tetap terjaga di ujung pagi
Pagi suci mengayomi jiwa berhati sunyi

Kesenjangan tak pernah merasa mempunyai jarak
Ketidakselarasan tak pernah merasa sejalan
Sebab malam tak pernah melupakan gelap
Terlebih gelapnya baju sang bulan

Lalala
Aduhai ini malam terbuka lebar
Menunggu pasangan menari

Lalala
Lihat malam tak pernah jenuh
Menjahit koyakan semesta yang acuh

Lalala
Lala
La
Aku rindu antologi malam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar